Petani VS Perusahaan Sawit Siapa Penyebab Kabut Asap


Petani VS Perusahaan Sawit Siapa Penyebab Kabut Asap

Samar-samar hamparan sinar surya menerpa wajah, cahaya yang begitu lembut dan menyegarkan, ku atur pernapasan untuk menikmati pagi sembari menyiram bunga di taman (tralalalalalala), 
pffttt….tapi boong.

Photo Free For Use PikBay

Kenyataannya kabut asap merupakan bencana yang melelahkan, harus menghirup kualitas udara terburuk di Indonesia, bayangkan dari beribu-ribu pulau di Indonesia, aku harus tinggal di kota Pontianak dengan kualitas udara (indikator 282 sangat tidak sehat mendekati berbahaya, sesak coy, mau lari tapi kemana, ini rumah ku, rumah yang seharusnya menjadi Istanaku, begitu menyedihkan.

Jarak pandang  motor hanya 20 meteran, kadang  harus berdiri dan sedikit menaikan pantat untuk melihat keadaaan jalan, warna langit tak lagi biru, matahari berwarna merah seperti Mugen Sukoyomi di film Naruto.

Kabut asap sungguh menyiksa, kebakaran hutan dan lahan telah menjadi rutinitas harian, Tahunan di Kalimantan, Karhutla sudah berminggu-minggu melanda di tambah keadaaan iklim, dan musim kemarau yang berkepanjangan, lama-lama manusia bisa berevolusi napasanya pake insang.

Kabut Asap, bukanlah masalah sepele, mahasiswa dan ormas melakukan demonstrasi, aktivitas sekolah tak lagi di jalankan, sementara kepala daerah kurang peduli  terhadap kebakaran hutan dan lahan, rata-rata para pemimpin makan suap, masyarakat dapat asap, kepala daerah boleh di kasi sanksi pakde Jokowi push 10 kali, haha.

Lucu juga liat pak Jokowi ke hutan  pakaian putih biasa tanpa masker, nanti kalo sakit gimana toh pakde, siapa yang mau mimpin Indonesia, sementara kami mau boker saja harus pakai masker.

Mari kita berandai-andai siapa dalang dari semua fenomene ini :
Pertama mungkin sambaran petir kondisi pohon yang kurang prima dapat menimbulkan kebakaran lahan dan hutan, sayangya INDONESIA yang umunya bercuaca tropis, petir akan selalu beriringan dengan Hujan, wajar saja kami bersperkulasi bahwa pelaku utamanya adalah perusahaan bangsat, yang akalnya lebih bulus, mau menang sendiri, kalau pun memang benar semoga dapat azab, di timpa pohon, layakanya sinetron azab illahi.

Pemicu lainya mungkin saja, gesekan pohon, pun sangat mustahil mengingat keadaan pohon daerah tropis memiliki tingkat kelembapan yang tinggi, presentase kebakaran nya sangat kecil.

Paling bangsat yang disalahkan ialah para petanai,  hey kalian salah besar justru petani sangat cerdas dan mencintai alam,  mereka merawat dan menjaga lahan  dengan serius  agar tidak merambat kehutan, , mungkinkah 1 hektera lahan petani dapat membuat asap kabut seluas kalbar, apalagi sekarang bukan musim bertani, umunya membuka lahan pada saat cuaca stabil.

Memang kaadaan tanah di Kalimantan adalah gambut, kedalaman api bisa mencapai 1 sampai 2 meter di dalam tanah,  walaupun  di siram oleh pemadam kebakaran akan sulit tertembus, kecuali ada pengendali air, atau avatar yang tersembunyi kemudian menyelematakan Kalimantan dari kebakaran hutan dengan kemampuan elemen airnya, atau mungkin pelakunya si pengendali api haha zuko.

Begini  man -teman, sekitar 5 juta hektar izin tambang di berikan kepada 721 #perusahaanyang baik, lima 5 juta hetar kepada #perusahaansawityangbaik sisanya 4,7 hektare untuk petani,area bisnis, perkebunan, dan untuk masyarakat umumnya, sebagai pembanding luas kota Pontianak sendiri hanya 10,780 hektare. (Mongbay.com)

Masalahnya para petani lebih senang mengelola tanaman yang bukan dari tanah gambut, nah lahan gambut hanya cocok untuk sawit,lidah budaya, dan nanas, namun keberadaan lidah buaya hanya seujung kuku man-teman, jadi secara jujur perusahaan sawit lah yang telah menguasai lahan gambut di kalbar.

hasilnya kabut asap yang mengandung Zat berbahya kemudian di hirup jutaan manusia mengandung Karbon Monoksida yang dapat menyebabkan sesak napas, pusing, kelumpuhan hingga kematian, Sulfur Dioksida membuat saluran napas, mengecil dan iritasi selaput lendir pernapasan, Nitrogen Dioskida merusak membran sel dan protein, Ozon iritasi tenggorakan,  menyebabkan kanker paru-paru,

Akibatnya para rakyat pribumi  merasakan sesak dada, kesulitan merasakan udara segar, dan lebih  berbahaya infeksi saluran peranapasan, begitu man-teman, jadi terimakasih #perusahaansawityangbaik telah memberikan asap pekat kepada kami semoga kalian di berkati. kesimpulan silakan kalian tarik sendiri, aku nggak mau berburuk sangka, ingat kebenaran akan selalu terungkap. 

Beberapa minggu yang lalu kami KKN di desa Penari, Ambawang, daerah Kubu Raya, selama 40 hari, tanpa hujan setetes pun selama kurang lebih 37 hari, hari pertama kedatangan di sambut dengan hujan, nah selama kurang lebih tiga 37 hari kami bermodalkan air sumur,  keadaan sungai makin mengering,  tanpa PDAM, harus bertahan sampai pada masanya air benar-benar kering sesekali kami menggunakan alternatif n tawas, walau tawas telah di tabur dengan banyak, nggak mempan coyy, 3 hari terkahir hujan pun turun lebat,  kami pun bahagia, itulah impian warga Kalbar memohon agar hujan turun berbagai upaya telah di lakukan antaranya melakukan solat istisqa bersama.








0 komentar:

Post a Comment

Kami mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog ini, silahkan berkomentar dengan bijak dan membangun keilmuan kita bersama, terimakasih.