Makalah Penilaian Hasil Belajar Autentik


 BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Menurut Asep (2018 : 100) penilaian hasil belajar autentik dapat terimplementasi dengan optimal apabila dilaksanakan dengan menggunakan penilaian kreatif. Teknik penilaian hasil belajar yang variatif dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang hendak dinilai yaitu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Teknik penilaian sikap terdiri dari observasi anecdotal record, incidental record maupun jurnal harian.

Penilaian sikap autentik direncanakan dan dilaksanakan guru untuk mengontrol perilaku peserta didik agar tetap menjadi peserta didik yang berkarakter berdasarkan norma kebangsaan, keagamaan dan kemasyarakatan, bahkan tujuan pendidikan nasional. Diantara karakter tersebut adlah jujur, disiplin, bersyukur, tanggung jawab, santun, peduli dan toleransi. Butir sikap tersebut dikembangkan oleh guru menjadi perilaku yang diamati baik dalam kelas maupun luar kelas sebagai perencanaan penilaian sikap. Perilaku yang muncul dari peserta didik yang menyimpan dari karakter sikap yang telah ditetapkan dicatat guru dalam lembar observasi tidak terstruktur, atau dilakukan penilaian diri atau penilaian teman Asep ( 2018 : 127 ).

Jadi menurut penulis bahwa penialaian sikap merupakan elemen penting dari tujuan pembelajaran yang hendak dilaksanakan. Dalam hal demikian penting bagi seorang guru untuk lebih memahami kadar kemampuan siswanya suapaya siswa mampu menerima pembelajaran yang sudah disesuaikan dalan KD. Dalam KD sudah tersimpan tujuan – tujuan pembelajran yang akan dicapai oleh guru untuk siswanya. Maka dari itu penilaian sikap harus benar-benar sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan tanpa pandang pilih kasih.



B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian konsep penilaian sikap ?

2. Apa komponen penilaian sikap ?

3. Apa objek penilaian sikap dalam proses pembelajaran ?

4.  Apa saja tingkatan penilaian sikap ?

5. Apa saja teknik penilaian sikap ?

6. Apa tujuan penilaian sikap ?

7. Apa manfaat penilaian sikap ?

8. Apa saja kelebihan dan kekurangan penilaian sikap

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep penilaian sikap.

2. Untuk mengetahui komponen penilaian sikap.

3. Untu mengetahu objek penilaian sikap dalam proses pembelajaran.

4. Untuk mengetahui tingkatan penialaian sikap.

5. Untuk mengetahui teknik penialaian sikap.

6. Untuk mengetahui tujuan penilaian sikap.

7. Untuk mengetahui manfaat penialaian sikap.

8. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penilaian sikap.







BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Penilaian Sikap

Menurut Asep ( 2018 : 102 ) penilaian sikap merupakan penilaian perilaku peserta didik dalam proses pembelajaran, kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler, baik sikap spiritual maupun sikap sosial. Dalam Permendikbud, 23/2016 dijelaskan bahwa penialian sikap merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk memperoleh informasi deskriptif mengenai perilaku peserta didik. Penialain sikap dalam kurikumlum 2013 terdiri dari penialain sikap spiritual dan penilaian sikap sosial.

Penilaian   sikap spiritual merupakan penialain terhadap indikator sikap yang muncul pada Kompetensi Inti 1 ( KI-1 ). Diantara sikap spiritual tersebut adalah ketaatan beribadah, berpesrilaku bersyukur, berdoa sebelumdan sesudah melakukan kegiatan dan toleransi dalam beribadah. Indicator sikap spiritual tersebut dapat ditambah sesuai karakteristik satuan pendidikan. Penilaian sikap sosial merupakan penialain terhadap indicator sikap yang muncul pada Kompetensi Inti (KI-2), diantaranya : jujur, yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalamperkataan, tindakan, dan pekerjaan; disiplin, yaitutindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan; tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku peserta untuk melakukan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarkat, lingkungan Negara, dan Tuhan Yang Maha Esa; santun, yaitu perilaku hormat pada orang lain dengan bahasa yang lain; peduli, yaitu sikap dan tindakan yang selalu memberi bantuan kepada orang lain atau masyarakat yang membutuhkan; dan percaya diri, yaitu suatu keyakinan atas kemampuannya sendiri untuk melakukan kegiatan atau tindakan Asep ( 2018: 102-103).

Jadi penulis dapat menyimpulkan bahwa penilaian sikap adalahpenilaian yang diberikan berdasarkan kriteria penilaian yang sudah ditetapkan dalam setiap materi  pelajaran yang dibahas. Selain itu penilaian sikap pada peserta tidak semata untuk mengambil nilai tetapi untuk memberikan umpan balik atas materi penerapan atau tahap action dari materi dalam pelajaran yang sudah disampaikan.

B. Komponen Penilaian Sikap

Komponen sikap disini sebagai acuan yang memberikan arah atas penilaian dalam sebuah materi yang disampaikan, sebagaiamana yang sudah diuraikan oleh Zanna dan Rempel ( 2008 : 2 ) sebagai berikut :

1.      Kognitif

Komponen yang berkaitan dengan pengetahuan ,pandangan, keyakinan, yaitu yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempresepsikan terhadap objek sikap.

2.      Afektif   

Komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Kompetensi ini menunjukkan arah sikap, yaitu positif atau negative.

3.      Konatif/ Perilaku

Komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap,yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.

Jadi dapat penulis simpulkan bahwa komponen penilaian sikap tersebut terdiri atas tiga komponen, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Dari tiga komponen tersebut mempunyai arahan tentang penilaian sikap yang harus diambil oleh seorang guru. Sempunyai bagian yang berbeda-beda, namun masih dalam satu kesatuan yang saling membangun. Selain itu sebagai seorang guru harus mampu membedakan komponen-komponen tersebut untuk menghindari kesalah pahaman dalam memberikan penilaian.

C. Objek Penilaian Sikap Dalam Proses Pembelajaran

            Menurut Shindy dkk ( 2013 : 12-13 ) penialaian sikap dalam berbagai mata pelajaran dapat, secara umum dilakukan dalam berkaitan dengan berbagai objek sikap sebagai berikut :

1.      Sikap terhadap mata pelajaran. Siswa perlu memiliki sikap positif terhadap mata pelajaran. Dengan sikap positif dalam diri sisiwa akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motovasi dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan.

2.      Sikap terhadap guru mata pelajaran. Siswa daharapkan memiliki sikap positif terhadap guru mata pelajaran. Jika sikap positif sudah ada dalam diri siswa maka ia tidak akan mengabaikan hal-hal yang ada dalam mata pelajaran.

3.      Sikap terhadap proses mata pelajran. Siswa juga harus mempunyai sikap positif terhadap proses pembelajaran. Proses pembelajaran disini mencakup suasana pembelajran, strategi, metodologi, dan teknik pembelajran yang digunakan.

4.      Sikap terhadap materi dari pokok-pokok bahasan yang ada. Diharapkan siswa menanamkan sikap positif terhadap materi pelajaran karena hal tersebut membawa kepada keberhasilan dalam pembelajaran.

5.      Sikap afektif lintas kurikulum, seperti yang diuraikan diatas. Kompetensi-kompotensi tersebut juga untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran berdasarkan kurikulum yang masih berlaku.

Maka dari objek diatas penulis dapat menyimpulkan bahwasanya objek penialain sikap tersebut tak luput daru guru dan peserta didik bahkan materi ajar sekalipun. Untuk selanjutnya kita perlu keterampilan dalm mengatur dan menyeimbangkan antara penialian afektif dan kognitif. Tidak semua orang atau pesrta didik mempunyai pemikirang dan sikap yang berbeda.



           

                        

D. Tingkatan Penilaian Sikap

Menurut Ahmad Maksum ( 2013:51-52) domain afektif ( affective domain) terdiri atas beberapa jenjang kemampuan, yaitu :

1.      Kemauan menerima (receiving), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk peka terhadap eksistensi fenomena atau rangsangan tertentu.

2.      Kemauan menanggapi/menjawab (responding),  yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk tidak hanya peka pada suatu fenomena tetapi juga bereaksi terhadap salah satu cara, penekananya pada kemauan peserta didik untuk menjawab secara sukarela membaca tanpa ditugaskan.

3.      Menerima (valuing), yaitu jenjang kemauan yang menuntut peserta didik untuk menilai suatu objek, fenomena atau tingkah laku tertentu secara konsisten.

4.      Organisasi (organization), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menyatukan nilai-nilai yang berbeda, memecahkan masalah, membentuk suatu system nilai

Menurut penulis bahwa peserta didik harus mempunyai beberapa jenjang kemauan yaitu kemauan menerima (receiving), kemauan menanggapi/menjawab (responding), menerima (valuing), dan organisasi (organization). Karena ini adalah komponen terpenting saat guru menyampaian materi peserta didik harus bisa menerima apa yang di sampaikan oleh guru, peserta didik juga harus bisa merespon atau menjawab pertanyaan yang di sampaikan oleh guru.



            Sikap siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar sangat besar pengaruhnya terhadap berhasul tidaknya proses pembelajaran tersebut. menurut Silverius (dalam Riyono, 2005:11), sikap siswa dalam proses pembelajaran meliputi lima tingkat kemampuan, yaitu:Hasil belajar pada tingkat ini penekanannya lebih besar diletakkan pada kenyataan bahwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa.

Tingkat ranah afektif ini merupakan keterpaduan semua nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Pada tingkat ini peserta didik memiliki system nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.

E. Teknik Penilaian Sikap

            Menurut Umi Salamah (2018:283-284) penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian antar teman, dan jurnal selama proses pembelajaran berlangsung, dan tidak hanya di dalam kelas.

1.      Observasi

Merupakan tenik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format observasi yang berisi sejumlah indicator perilaku yang diamati. Hal ini dilakukan saat pembelajaran maupun di lua pembelajaran.

2.      Penilaian diri

Penilaian diri adalah teknik penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan sendiri sebelum ulangan oleh peserta didik secara reflektif. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrument yang digunakan berupa lembar penilaian diri.

3.      Penilaian antarteman

Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk salinf menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik. Instrument yang digunakan berupa lembar penilaian antar peserta didik. Penilaian ini dilakukan secara berkala setelah proses pembelajaran.

4.      Jurnal catatan guru/jurnal pendidik

Jurnal pendidik adalah instrument penilaian yang digunakan untuk menghimpun catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil observasi.



Menurut penulis teknik penilaian yang di lakukan pertama kali oleh seorang guru adalah observasi unruk mengetahui perilaku siswa setelah di lakukan observasi seorang guru menggunakan teknik penilaian diri, penilaian antarteman, dan jurnal. Karena setiap teknik memiliki kekurangan masing-masing tetapi juga melengkapi kekurangan masing masing teknik.





F. Tujuan Penilaian Sikap

Menurut Suharsimi ( 2015 : 193 ) pengeukuran ranah afektif tidak dapat dilakukan saat ( dalam arti formal ) karena perubahan tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu-waktu. Pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu yang relative lama. Demikian pengembangan minat dan penghargaan serta nilai-nilai. Didalam Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa ( PSPB ) disebutkan bahwa penilaian ranah kognitif bertujuan mengukur pengembangan penalaran, sedangkan tujuan penilaian afektif adalah sebagai berikut :

1.      Untuk mendapatkan umpan balik ( feedback ) baik bagi guru maupun siswa sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar – mengajar dan mengadakan program perbaikan ( remedial program ) bagi anak didiknya.

2.      Untuk mengetahui tingkat perubahan tingkah laku anak didik yang dicapai, yang antara lain diperlukan sebagai bahan untuk perbaikan tingkah laku anak didik, pemeberian laporan kepada orangtua, dan penetu lulus tidaknya anak didik.

3.      Untuk menempatkan anak didik dalam situasi belajar – mengajar, sesuai dengan tingkat pencapaian dan kemampuan serta karakteristik anak didik.

4.      Untuk mengenal latar belakang kegiatan belajar dan kelainan tingkah laku anak didik Depdikbud ( didalam Suharsimi, 2015 : 193 ).

Sehubungan dengan tujuan  penialaiannya ini maka menjadi sasaran penilaian kawasan afektif adalah perilaku anak, bukan pengetahuannya.

Maka dari itu penulis dapat menarik kesimpulan bahwasanya tujuan dari penialaian sikap itu mempunyai bagian atau ranah tersendiri yang tidak bisa dicampu adukkan antara penialaian afektif dengan kognitif, akan tetapi saling mendukung dengan tujuan pembelajaran berdasarkan KI yang sudah ditetapkan.   



G. Manfaat Penilaian Sikap

Menurut Ahmad Maksum ( 2013 : 37 ) ada beberapa manfaat dari penilaian sikap sebagaiman yakni, Manfaat bagi guru akan mengetahui bagaimana bahan belajar dikuasai oleh peserta didik. Jika guru mngetahui tingkat keberhasilan kelompok peserta didik dalam materi pelajaran, maka guru dapat membuat keputusan, apakah suatu materi itu perlu diulang atau tidak. Jika harus diulang maka guru harus mengetahui startegi pembelajaran yang akan ditempuh.

Menurut Asep (  2018 : 130 ) manfaat merencanakan penialain sikap bagi guru dapat dijadikan sebagai standar minimal pengamatan peserta didik dalam kegiatan pembelajran. Dengan peserencanaan penilaian sikap yang telah disiapkan guru dapat mengarahkan kegiatan pembelajran langsung yang dapat menampilkan sikap yang telah direncanakan sebelumnya. Disamping itu, guru juga dapat mencatat sikap yang muncul dari luar perencanaan.

Maka itu penulis dapat menyimpulkan bahwa manfaat penilaian sikap tersebut tidak hanya untuk mendapatkan nilai yang berbentuk angka, tapi yang sangat diperhatiakandalam penialaian sikap yakni adab murid, terhadap guru/dosen, adab terhadap buku dan laian-lain. Dari situlah seorang anak bisa menyadari sampai dimana baik - buruk dirinya .

H. Kelebihan dan Kekurangan Penilaian Sikap  

 Menurut Zakiyah(e-journal 2010 : 41-42 ) Sebagai paradigm baru, penilaian sikap memiliki keunggulan – keunggulan  dalam pelaksanaannya pada waktu belajar mengajar berlangsung. Adapun keunggulan dalam penialaian sikap yaitu :

1.      Menumbuhkan rasa percaya diri, karena peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri.

2.      Pserta didik dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri, karena metode ini merupakan metode metode untuk intropeksi diri.

3.      Peserta didik termotivasi untuk berbuat jujur dan objektif dalam menyikapi suatu hal.

4.      Termotivasi untuk selalu berbuat baik kepda siapapun, misalnya berkata jujur, tidak sombong, pemaaf, tidak maksiat.

Selaian itu tentunya penilaian sikap memiliki kekurangan, sebagaimana dapat diuraiakan sebagai berikut :

1.      Sulit menentukan instrumennya.

2.      Didalam pelaksanaannya rentan terhadap subyektifitas guru.

3.      Memerlukan waktu yang panjang.

Jadi dapat penulis simpulkan bahwasanya dalam penilaian sikap ini memiliki kelebihan dan kekurangan, sebagaiman yang sudah tercantum diatas. Namun penilaian sikap sikap juga sangat penting dalam pendidikan, dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan penialaian sikap tersebut diharapkan ke-profesionalitas guru lebih ditingkatkan lagi



BAB III

PENUTUP



A. Kesimpulan

Pada dasarnya dalam penialaian sikap pelakasanaan penialian sikap dalam Kurikulum 2013 berdasarkan petunjuk teknis penialaian yang berlaku dalam Kurikulum 2013 bahwa observasi dilakukan dengan tidak terstruktur. Guru mengamati perilaku pserta didik berdasarkan kejadian yang muncul pada saat pembelajran atau diluar pembelajran yang kemudian rekapitulasi dalam bentuk jurnal serta dapat ditindak lanjuti dengan penialaian diri dan antarteman jika dibutuhkan.  

Dengan implementasi Kurikulum 2013, penanaman sikap menjadi porsi utama dan pertama tyang harus ditanamkan kepada peserta didik sebagaimana terdapat dalam Kompetensi 1 dan 2 dari Kompetensi 1 dan , sehingga dalam pembelajrannya mendapat porsi utama dan pertama untuk ditanamkan pada pserta didik, baik secara langsung maupun menjadi dampak pengiring dari pembelajran berlangsung. Sikap memndapatkan tempat untuk dibelajarkan kepada peserta didik secara kerikuler, yang otomatis menjadi bagian dari tujuan pembelajaran yang harus direncanakan oleh pendidik, maka guru harus dapat mengembangkan perencanaan dal pelaksanaan penilaian sikap.

Penialaian kurikulum dikenal sebgai penilaian yang berasas pada penialaian autentik. Hal ini karena proses pembelajran dilangsungkan dengan sintifik, sementara saintifik bersifat autentik. Yang menggunakan langkah mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan, sebagai rangkaian logispelaksanaan pembelajran.

Oleh karena itu guru dapt merencanakan penialian sikap terintegrasi dengan pembelajran saintifik akan tampak bahwa sikap dimiliki oleh peserta didik secara nyata autentik.

B. Saran

Apabiala kita lihat sekarang pada zaman modern ini, banyak sekali dari beberapa kalangan yang kurang perduli tentang kebudayan khususnya Mahasiawa. Maka perlunya sebuah kesadaran mengeni betapa pentingnya arti dari sebuah kebudayaan. Bahwa kebudayaan merupakan identitas dari suatu daerah tersebut.



































DAFTAR PUSTAKA

  

Prof.Dr.Suharsimi A. 2015. Dasar-Dasar Evaluasi. Jakarta : PT.Bumi Aksara

Asep Ediana L.2018. Evaluasi Pembelajaran Di SD dan MI. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Ahmad Maksum.2013. Evaluasi Sebuah Pembelajaran Pengantar. Pontianak : Stain Pontianak Press

Zanna dan Rempel.2015. Model Penilaian Sikap Spiritual Dan Sosial Pdf. Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Zakiyah. 2010. E-journal Landasan Teori. Digilib UIN Sunan Ampel.

Umi Salamah.2018. E-Journal Penjaminan Mutu Penialaian Pendidikan. Dosen STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang.  

Shindy P. 2013. Makalah Penilaian Sikap. STKIP : Jombang














0 komentar:

Post a Comment

Kami mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog ini, silahkan berkomentar dengan bijak dan membangun keilmuan kita bersama, terimakasih.