Bagaimana Puasanya ORANG YANG SUDAH TUA DAN PIKUN


Tanya:

Orang tua saya sudah sepuh. Usianya 85 tahun. Beliau kondisinya pikun. Bagaimana dengan kewajiban shaumnya? Apakah boleh tak berpuasa? Lalu apa yang harus dilakukan oleh saya sebagai anaknya?

Jawab:
Bismillahir-rahmanir-rahim. Keadaan pikun bervariasi. Ada pikun ringan, yakni orang yang pada dasarnya memiliki pikiran yang masih terang, namun sering kali lupa. Ada pula pikun berat di mana orang tersebut sudah tidak kehilangan daya ingatan sama sekali.

Ada pula pikun lebih ringan dari pikun berat ini. Orang ini mungkin masih bisa berkomunikasi walaupun secara terbatas. Ia masih mengenali orang-orang dekatnya, seperti anak-anaknya, tetapi terkadang apabila ditanyakan nama mereka ia tidak bisa menyebutkannya. Ia tidak bisa mengingat peristiwa masa lalu, walaupun belum lama terjadi. Ia juga mengalami disorientasi waktu dan tempat. Artinya ia tidak bisa mengenali hari atau jam. Ia tidak lagi tahu waktu zuhur, asar, dan seterusnya. Juga tidak dapat mengenali perbuatan yang dilakukannya. Misalnya ia salat zuhur, yang mestinya empat rakaat, namun ia mengerjakannya sedemikian rupa tanpa tahu berapa rakaat yang telah ia kerjakan dan tidak faham berapa rakaat yang harus ia lakukan untuk salat itu.



Dalam hukum syariah, akal dan kemampuan memahami adalah syarat dikenakan kewajiban agama (taklif). Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi saw, “Diangkat pena (maksudnya dihapus kewajiban agama) dari tiga kategori orang, yaitu dari orang tidur sampai ia bangun, dari anak di bawah umur sampai ia dewasa, dan dari orang gila sampai ia sembuh” [HR Abu Dawud]. Dari hadis ini diabstraksikan syarat orang dikenai kewajiban syariah (taklif), yaitu adanya akal dan kemampuan memahami taklif itu sendiri.

Oleh karenanya, orang pikun berat yang tidak memahami apa-apa lagi tidak dikenai kewajiban syariah. Sebaliknya orang pikun ringan yang hanya lupa atau linglung sewaktu-waktu saja tetap dikenai kewajiban syariah.

Adapun orang pikun kategori ketiga seperti dikemukakan di atas dilihat keadaannya. Apabila ia tidak bisa lagi memahami seutuhnya arti melaksanakan kewajiban tersebut, ia tidak lagi dikenai kewajiban syariah. Ia seperti anak mumayiz (anak belum dewasa, tetapi sudah melewati usia 7 tahun) yang, meskipun sudah memiliki kemampuan memahmi, namun belum sempurna. Ia belum dikenai taklif.
Orang pikun seperti di atas yang tidak lagi dikenai kewajiban berpuasa, juga tidak dikenai kewajiban membayar fidyah. Fidyah dilakukan oleh orang yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua misalnya, namun ia masih sehat akalnya sehingga ia masih tetap mukalaf (dikenai kewajiban agama). Sementara orang pikun seperti di atas tidak lagi dikenai kewajiban apa-apa. Jadi tidak ada fidyah.

Tetapi ia masih tetap dikenai kewajiban kehartaan seperti membayar zakat sepanjang ia mempunyai harta. Kewajiban zakat tidak dikaitkan kepada akal, tetapi dikaitkan kepada kepemilikan harta yang mencapai nisab. Oleh karena itu, anak kecil, orang gila, orang pikun yang tidak lagi memiliki akal yang sehat, tetap dikenai kewajiban zakat bilamana mereka mimiliki harta kekayaan yang mencapai nisab zakat.

Kewajiban saudara penanya adalah mengeluarkan zakat dari harta orang tua saudara jika ia memiliki harta yang mencapai nisab. Jika tidak ada harta, maka tidak ada kewajiban zakat.

(Sumber: Tanya Jawab Puasa Ramadhan oleh Prof.Dr.H.Syamsul Anwar, MA).
Tulisan ini di ambil dari postingan ust.arsip Widodo dan sudah mendapatkan izin untuk di posting ulang

0 komentar:

Post a Comment

Kami mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog ini, silahkan berkomentar dengan bijak dan membangun keilmuan kita bersama, terimakasih.