Bagaimana Hukum PUASANYA WANITA HAMIL DAN WANITA MENYUSUI


Tanya:

Assalamualaikum wr wb. Bagaimanakah orang yang tidak dapat melaksanakan kewajiban puasa ramadhan dikarenakan: 1) sakit, 2) uzur/tua, 3) haid, 4) pekerja berat. Ada kasus seseorang yang karena haid mengganti puasanya dengan membayar fidyah. Bolehkah? Terima kasih (Riawaty Kucica, Bintaro)

Jawab:
Wa alaikumus-salam.
Bismillahir-rahmanir-rahim. Ibu Riawaty Kucica, memang ada beberapa orang yang boleh tidak berpuasa Ramadan. Yaitu, selain yang ibu sebutkan, juga adalah orang dalam perjalanan serta wanita hamil dan menyusui.

Orang sakit di bulan Ramadan boleh tidak berpuasa, dan ia wajib mengqada puasa yang ditinggalkannya setelah Ramadan. Tetapi apabila sakitnya menahun dan kronis di mana ia tidak mampu berpuasa dan tidak punya hari lain untuk mengqadanya karena penyakitnya terus menerus, maka ia menggantinya dengan membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin untuk satu hari Ramadan yang ditinggalkan. Orang dalam perjalanan mengqada puasanya di luar Ramadan setelah kemabli dari perjalanan.



Sakit dan perjalanan itu ada tiga kategori. Pertama, sakit dan perjalanan di mana apabila orang tetap berpuasa akan membahayakan dirinya atau menyebabkan sakit atau bertambah sakitnya. Bagi orang seperti ini wajib iftar (tidak puasa) karena taklif agama tidak bermaksudkan mencelakakan manusia. Kedua, sakit dan perjalanan di mana apabila orang berpuasa Ramadan tetap bisa, namun membuatnya sangat berat dan menderita secara di luar kewajaran manusiawi. Dalam kondisi ini ia boleh berpuasa, tetapi iftar (tidak puasa) lebih utama karena agama itu asasnya adalah memberi kemudahan dan tidak bermaksud mempersukar. Ketiga adalah perjalanan atau sakit yang memungkinkan orang tetap berpuasa tanpa menderitakan, seperti sakit demam tidak parah atau perjalanan modern dengan pesawat pada zaman sekarang. Dalam kasus ini, menurut Imam al-Bukhari, al-Qurtubi dan beberapa ulama lain, boleh iftar (tidak berpuasa), namun berpuasa lebih utama.

Orang tua yang sudah uzur di mana tidak bisa berpuasa atau bisa melakukannya namun dengan penderitaan yang berat, maka ia boleh tidak puasa dan menggantinya dengan membayar fidayah karena ia tidak mempunyai hari lain lagi untuk membayarnya. Dipersamakan dengan orang tua yang sudah uzur ini adalah pekerja berat seperti kuli-kuli pelabuhan atau pekerja konstruksi jalan yang bekerja di tengah terik matahari. Mereka ini apabila pekerjaannya terus menerus sehingga tidak ada hari lain untuk mengqadanya, maka mereka membayar fidyah. Tetapi apabila pekerjaannya musiman (tidak terus menerus) di mana masih mempunyai hari lain untuk mengqadanya, mereka wajib mengqada di hari lain.

Wanita hamil dan kemudian diikuti dengan melahirkan dan menyusui anaknya, apabila tidak kuat berpuasa atau ia perlu menjaga kesehatan yang prima demi kesehatan kandungan atau anak yang disusuinya, maka ia boleh tidak berpuasa. Karena masa mengandung dan diikuti dengan masa menyusui mencapai lebih dari dua tahun, maka ia mengganti hutang puasa Ramadannya dengan membayar fidyah. Apalagi kalau hamil dan menyusui diikuti langsung dengan kehamilan dan menyusui anak kedua dan ketiga, maka hutang puasanya menumpuk. Oleh karena itu untuknya ditetaspkan penggantiannya dengan membayar fidyah.

Ada pendapat bahwa wanita hamil itu apabila tidak puasa Ramadan mengqada dan sekaligus membayar fidyah. Tidak ada dasar penggandaan pembayaran hutang itu dan bertentangan dengan asas pelaksanaan puasa itu sendiri, yaitu “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidakmmenghendaki kesukaran” [Q. 2: 185].

Sementara wanita haid tidak dibolehkan berpuasa dan salat selama masa haid. Ia wajib mengqada (berpuasa di hari lain) guna membayar hutang puasanya, tetapi tidak ada kewajiban qada salatnya. Jadi wanita haid tidak membayar fidyah, tetapi mengqada di hari lain. Demikian diperintahkan oleh rasulullah saw. Dalam hadis ditegaskan bahwa ‘Aisyah mengatakan, “Kami [di zaman Nabi saw] mengalami haid. Lalu kami diperintahkan [oleh beliau] untuk mengqada puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqada salat” [HR Muslim].

Puasa sangat penting karena ia adalah rukun Islam dan membawa banyak manfaat fisik dan rohani. (Sumber: Tanya Jawab Ramadhan oleh Prof.Dr.H.Syamsul Anwar, MA).
Sumber dari postingan fb ust.arsip Widodo dan sudah mendapatkan izin untuk diposting ulang

0 komentar:

Post a Comment

Kami mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog ini, silahkan berkomentar dengan bijak dan membangun keilmuan kita bersama, terimakasih.