Urgensi Memilih Kepala Negara


Manusia adalah makhluk sosial, sehingga sangat tidak mungkin bagi manusia untuk hidup seorang diri. Kebutuhan hidup yang beraneka ragam akan menutunnya untuk senatiasa berinteraksi dengan manusia lain. Perbedaan pendapat, ambisi, dan kepentingan masing-masing pihak yang muncul dalam proses interaksi akan sangat mungkin untuk menimbulkan sebuah konflik, pertikaian, penidasan, peperangan, pembunuhan antara satu pihak dengan pihak lain, antar etnis bahkan dapat memicukan pertumpahan darah, yang berdampak langsung munculnya kehancuran, kebinasaan dalam berbagai dimensi kehidupan manusia itu sendiri.

Menghadapi hal tersebut dan agar terciptanya kehidupan masyrakat dapat berjalan dengan baik, tertib, aman, damai, dan sentosa, maka sangat diperlukan seorang pemimpin yang akan memandu rakyat menggampai manfaat sekaligus menghindarkan  dari berbagai kerusakan.

Mengangkat kepala negara yang akan mengelola negara, memimpinya, dan mengurus segala permasalahan rakyatnya, menurut ibn Abi Rabi', sangat urgen untuk di lakukan, beliau berkata sebuah ketidakmungkinan, suatu negara berdiri tanpa penguasa yang akan melindungi warga-warganya dari gangguan dan bahaya, baik yang timbul di antara mereka sendiri atau pun yang datang diluar, (Sadjali dalam bukunya berjudul Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemkiran, hal, 46).

Begitu juga dengan Ibn Taimiyah mengatakan, 60 tahun dibawah pemerintahan iman (Kepala Negara) yang zalim (tirani), lebih baik daripada satu malam tanpa kepala negara, (dalam buku Muhjar Ibnu Syarif, Hak-hak Politik Minoritas, non-Muslim dalam komunitas Islam, hal 13). Pernyataan  para pemikiri dan tokoh mahsyur di atas membuat kita yakin bersama bahwa keberadaan pemimpin sangat,sangat penting di negara ini.

Mengaitkan hal ini dengan dinamika perpolitikan yang terjadi di Indonesia ini, dan tentu saja dalam menghadapi tahun politik, tertutama juga menghadapi pemilihan pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia,

kita sebagai seorang manusia dan seorang muslim sangat di wajibkan sebagaimana diterangkan dalam Q.S An-Nisa : 59 "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

tidak boleh tiga orang berada di suatu tempat dimuka bumi ini, kecuali (bila) mereka memilih salah seorang di antarnya sebagai pemimpinnya  (H.R Ahmad)

Lalu Bagaimanakan Kriteria pemimpin Islam yang baik dan sesuai dengan Syariat Al-Quran dan Hadis nantikan tulisan selanjutnya minggu depan ?


0 komentar:

Post a Comment

Kami mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog ini, silahkan berkomentar dengan bijak dan membangun keilmuan kita bersama, terimakasih.