Idealisme Kampus

Idealisme Kampus

Oleh Rahadi  Mahasiswa IAIN Pontianak

Mahasiswa merupakan seorang agen of change alias agen dari perubahan bangsa ini. Menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah kebanggaan, karena tidak sedikit yang ingin menjadi mahasiswa tetapi tidak memiliki kesempatan untuk meraihnya mungkin terkendala biaya dan sebagainya.  Dalam kehidupan sebagai mahasiswa, kampus akan dihidupkan dengan adanya pemikiran idealisme. Yang biasa disebut idealisme kampus.
Mahasiswa pada dasarnya selalu dituntut memiliki sifat idealis, namun seiring berjalannya waktu mahasiswa mulai meninggalkan karakter idealis ini. kritik-kritik pedas tidak lagi pernah dituangkan dalam forum-forum diskusi. Organisasi di kampus menjelma sebagai tangan kanan kampus, yang hanya melakukan apa yang diperintah oleh atasan.
Forum-forum diskusi hampir tidak pernah dilakukan. Banyak akhirnya mahasiswa yang memiliki sifat apatis yang memang tidak perduli lagi dengan keadaan disekitarrya. Untuk memiliki sifat idealis yang mempunyai kualitas tidaklah sembarangan. Idealis yang benar-benar memiliki intergritas adalah mahasiswa yang mempunyai kebiasaan membaca buku, yang serius setiap hari melahap bacaan-bacaan dari penulis-penulis hebat dan idealisme tinggi.
Jangan tanya jika idealis tumbuh dari logika saja, tanpa pernah diawalai dan dikuatkan melalui proses membaca, karena hanya melahirkan ide dan gagasan yang keropos, mudah hancur. Mahasiswa sejati yang dipercaya sebagai agen perubahan seharusnya berani memunculkan ide dan gagasan yang baru. Yang benar-benar memberikan perubahan.
Semakin hari kegiatan di kampus bak sapi yang ditusuk lubang hidungnya, hanya mengikuti arus yang diatur oleh dosen-dosen. Sebagai contoh, di sebuah kampus ada beberapa oknum dosen yang tidak punya konsistensi dalam aktivitas belajar-mengajar, ia jarang sekali masuk dengan alasan mengikuti kegiatan di luar. Ia lebih memilih mengikuti kegiatan di luar kampus dari pada memberi pengajaran pada mahasiswanya dan memilih asistennya untuk mengajar dari pada ia harus meninggalkan kegiatan yang substansinya hanya bersifat penuh pencitraan itu. Ironisnya lagi, sudah jarang ditemukan mahasiswa yang berani ambil tindakan melakukan sebuah protes sebagai pernyataan tidak setuju.
Mahasiswa yang mempunyai idealisme harusnya berani memberi kritikan pada oknum dosen yang bermain seperti itu, demi kemajuan  dibidang SDM, karena kemampuan mahasiswa atau intelektual mahasiswa tergantung seroang dosen sebagai kausa efisien yang menjadi pembentuk atau pengolah mahasiswanya. Kebun jagung tergantung kepada petaninya mengolah kebunnya menjadi subur dan berbuah besar. Begitulah analagi yang sedikit mudah dipahami.
Idealisme harus dihidupkan lagi, jika di dalam sebuah kampus tidak ada idealisme, kampus tidak lagi mempunyai warna, warna yang menghiasai dan memperindah kehidupan intelektual kampus. Idealisme berperan untuk menghidupkan hasrat dalam diri untuk mempunyai jiwa kritis dan untuk mengawal kegiatan kampus yang mungkin saja berjalan tidak baik. Mari hidupkan lagi idealisme kampus. Agar kampus benar-benar menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mewujudkan potensi yang ada pada dirinya untuk diaktulalisasikan pada kehidupannya.

*Rahadi