Makalah Kriteria dan Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data


MAKALAH

Kriteria dan Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

 Dosen Pengampu : Julia, S. Pd, M.Pd.
















Oleh :

Ikbar Junakarta 11611212

Liansyah 11611018

Wildia 11611119





JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

2018 /1439 H







 
KATA PENGANTAR
            Dengan mengucap Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, yang senantiasa selalu melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya kepada kita semua. Shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta sahabat, kerabat dan orang-orang yang mengikuti langkah beliau hingga akhir zaman. Sehingga penyusun dapat menyelesaiakan makalah ini yang berjudul “Kriteria dan Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data”.
            Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan dalam rangka memperbanyak ilmu pengetahuan dan juga sebagai salah satu syarat yang wajib di penuhi. Penyusun sepenuhnya sangat menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya di sebabkan keterbatasan pengetahuan penyusun oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini yang akan datang.
            Akhirnya penyusun mengharapkan semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi diri penyusun dan juga bermanfaat bagi orang lain.

                                                                                    Pontianak, 11 November 2018



                                                                                                          Penyusun


DAFTAR ISI
Cover 
Kata Pengantar............................................................................................ i
Daftar Isi.................................................................................................... ii
BAB I PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang............................................................................... 1
B.    Rumusan Masalah........................................................................... 2
C.    Tujuan.............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Alasan dan Acuan........................................................................... 3
B.    Kriteria Keabsahan Data................................................................ 4           
C.    Pemeriksaan Keabsahan Data.......................................................  5
1.     Pengertian................................................................................. 5           
2.     Keabsahan Data dalam Penelitian........................................... 5
3.     Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data...................................... 7
a.      Perpanjangan keikutsertaan .......................................   7
b.     Ketekunan Pengamat.................................................... 8
c.      Triangulsi..................................................................... 8
d.     Pengecekan Sejawat..................................................... 9
e.      Kecukupan Refrensi.................................................... 10
f.      Kajian Khusus Negatif............................................... 10
g.     Pengecekan anggota................................................... 11
h.     Uraian Rinci............................................................... 11
i.       Auditing...................................................................... 12
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................   14
B.    Saran............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 15


 

BAB I

PENDAHULAN


A.    Latar Belakang
Peneliti dalam menyajikan sebuah data tidak serta merta menjadikan hasil temuan peneliti sebagai data yang akurat dan memiliki tingkat kepercayaan dan keakuratan  yang tinggi. Perlu melewati pengujian data terlebih dahulu sesuai dengan procedural/ tata cara yang telah ditetapkan sebagai seleksi akhir dalam menghasilkan atau memproduksi temuan baru. Oleh karena itu, sebelum melakukan publikasi hasil penelitian, peneliti terlebih dahulu harus melihat tingkat kesahihan data tersebut dengan melakukan pengecekan data melalui pengujian keabsahan data.
Keabsahan Data merupakan standar  kebenaran suatu data hasil penelitian yang lebih menekankan pada data/ informasi daripada sikap dan jumlah orang. Pada dasarnya uji keabsahan data dalam sebuah penelitian, hanya di tekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Ada perbedaan yang mendasar mengenai validitas dan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel yang diuji validitas dan reliabilitasnya adalah instrumen penelitiannnya. Sedangkan dalam penelitian kualitatif yang diuji adalah datanya. Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.
Uraian tersebut di atas memberikan kesan bahwa dari segi validitas dan reliabilitas, bila tidak dilakukan dengan tepat dan benar serta secara lebih hati-hati, ancaman terhadap pengotoran hasil penelitian akan benar-benar menjadi kenyataan.




B.    Rumusan Masalah
1.       Bagaimana alasan dan acuan keabsahan data?
2.      Bagaimana kreteria keabsahan data?
3.      Bagaimana Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui alasan dan acuan keabsahan data.
2.       Untuk mengetahui kreteria keabsahan data.
3.       Untuk mengetahui Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data.


























BAB II
PEMBAHASAN
A.     Alasan dan Acuan
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (realiabilitas) menurut versi positvisme dan disesuaikan dengan tuntunan pengetahuan, kreteria dan paradigm sendiri.Mula-mula hal itu harus dilihat dari segi kriteria yang digunakan oleh nonkualitatif. Istilah yang di gunakan oleh mereka antara lain ialah validasi internal, vadilitas eksternal, dan reliabilitas, dalam bukunya (Maleong 2001: 171) menjelaskan :
1.   Validasi internal yang dinyatakan sebagai variasi yang terjadi pada variable terkait dapat ditandai sejauh fariasi pada variable bebas dapat dikontrol,mungkin berpengaruh dalam sebab akibat, maka digunakan control sebagai upaya mengisolasi variable bebasnya.
2.  Validasi eksternal, menurut cook dan campbel dalam buku Meleong (1967: 37), ialah perkiraan validitas yang  diinferensikan berdasarkan sebab-akibat yang diduga terjadi pada dan di antara ukuran alternative sebab-akibat dan di antara jenis orang, latar, dan waktu. Jika sampel dipilih secara tepat dari populasi menurut ukuran dan ciri yang tepat, maka kriteria tersebut mungkin dapat dicapai dalam keterbatasan tertentu. Namun, sering kali terjadi latar yangd igunakan itu berupa laboratorium, terutama untuk kepentingan control.
3.  Reliabilitas menunjuk pada ketaatasasan pengukuran dan ukuran yang digunakan. Pengetesan reliabilitas biasanya dilakukan melalui replikasi sebagaimana yang dilakukan tehadap pengukuran butir-butir ganjil-genap, dengan jalan tes-retes, atau dalam korelasi bentuk paralel. Teknik ini harus benar-benar dilakukan jika menginginkan alat pengukuran yang benar-benar reliable. Persoalan yang dihadapi biasanya tidak mudah karena ancaman-ancaman seperti tindakan penelitian yang tidak sempurna, pengukuran yang tidak berlangsung lama, berbagai macam kebingungan, dan faktor-faktor lainya

B.    Kriteria Keabsahan Data
 Secara teoritis langkah analisis data merujuk pendapat Moleong (2006 : 118) yang menyatakan bahwa, untuk mendapatkan dan menetapkan data yang relavan di cari keabsahannya dengan digunakan teknik pemeriksaan data berdasarkan beberapa kriteria sebagai berikut:
a.      Digunakan kriteria derajat keperecayaan credibility untuk memperoleh data dilakukan hal-hal yang sedemikian rupa sehingga data yang di- peroleh benar-benar dapat di percaya.
b.     Digunakan kriteria keterlibatan tranferability. Peralihan data dilakukan dalam situasi dan kondisi lingkungan sosial penelitian yang ada (yang masih mentah)
c.      Digunakan kriteria ketergantungan. Keabsahan data yang diperoleh di kontrol dengan cara di cari buki-buktinya dalam kenyataan-kenyataan sosial yang di lakukan, atau diadakan pengamatan dan wawancara ulang. Memang dalam hal ini banyak ditemui kesulitan, sebab suatu kejadian atau pristiwa tidak terulang lagi sebagai mana sebelumnya. Tetapi hal ini tetap dilakukan karena sangat baik untuk di jadikan peetimbangan.
d.     Digunakan kriteria-kriteria kepastian (confirmability) untuk mendapatkan data yang objektif mungkin, data yang telah di peroleh di konsultasikan dengan informan kunci.

Data yang telah diperoleh dikelompokan ke dalam kelompok primer (sesuai dengan fokus masalah) dan ke dalam kelompok pelngkap. Dan sebagai langkah akhir dari proses penelitian ini adalah menganalisis data. Analisis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah menganlisis data. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk deskriftif, yaitu menggambarkan data secara lengkap dan menyeluruh serta diikuti interpretasi atas data tersebut, dengan jalan memadukan bebrbagai konsep yang ada relavansinya dengan penelitian ini.
Maka uttuk dapat menginterpestasikan data, penelitian ini mengacu pada pendekatan interaksi simbolik makna dari objek, orang, situasi, dan pristiwa yang sebenarnya tidak memiliki pengertian sendiri, tetapi membutuhkan interpretasi orang agar objek, orang, situasi, dan pristiwa tersebut bermakna (moleong, 2006 : 181).

C.  Pemeriksaan Keabsahan Data
1.     Pengertian
Sebagaimana pentingnya kedudukan data dalam penelitian, memastikan kebenaran data juga menjadi pekerjaan yang tidak boleh diabaikan oleh seorang peneliti. Data yang baik dan benar akan menentukan hasil suatu penelitian sebagai baik dan benar. Sebaliknya data yang keliru (diragukan kebenarannya) akan menurunkan derajad kepercayaan sebuah hasil penelitian (Ibrahim, 2015: 119).
Pentingnya memastikan setiap data yang diperoleh adalah benar dan dapat dipercaya sangat relevan dengan kedudukannya dalam penelitian. Data adalah penelitian dan penelitian adala data. Itulah sebuah ungkapan yang menempatkan pentingnya kedudukan data dalam penelitian. Sebuah penelitian dapat dianggap berhasil apabila datanya dapat diperoleh (tentu saja sebelum memastikan kebenarannya). Di sinilah data menjadi sesuatu yang substansi dalam sebuah penelitian. Dengan kata lain, tidak ada penelitian yang tidak menggunakan data, apapun bentuknya. Karena itu, data memiliki kedudukan yang penting dalam penelitian, memastikan data dapat di peroleh dan memiliki tingkat keabsahannya sama pentingnya dengan penelitian itu sendiri (Ibrahim, 2015: 119).
2.        Keabsahan Data Dalam Penelitian
Keabsahan data (trustworthiness of data) adalah bagian yang penting (elementary) dalam penelitian. Menurut Moleong (2006: 334), ada empat kriteria keabsahan data pada suatu penelitian, yakni: derajad keterpecahan (credibility), Keteralihan (transferability), kebergantungan (devendability), dan kepastian (confirmability)
Derajad ketepercayaan (kredibilitas) dapat ditunjukan dengan melihat hubungan antara data dengan sumber data (kredibilitas sumber), antara data dengan teknik penggalian data (kredibilitas teknik), dan pembuktian data lapangan (kredibilitas informasi). Dalam penelitian kuantitatif, kredibilitas ini sepadan dangan apa yang disebut dengan validitas internal (Ibrahim, 2015: 120).
1.     keteralihan (transferadibiliti) yang dimaksudkan sebagai keabsahan data dalam penelitian kualitatif bermakna bahwa kebenaran (peristiwa) empiris dipercaya meliliki keterkaitan dengan konteks. Karena itu peniliti kualitatif bertanggungjawab untuk menyediakan data deskriftif secukupnya sebagai bentuk pengalihan (transferabilitas) makna (empiris) dan konteks (peristiwa)
2.     Kebergantungan (dependability) merupakan substitusi istilah reliabilitas dalam penelitian yang nonkualitatif yang ditunjukkan dengan jalan mengadakan replikasi studi. Jika dua atau beberapa kali diadakan pengulangan suatu studi dalam suatu kondisi yang sama, dan hasilnya secara esensial sama, maka dikatakan reliabilitasnya tercapai (Moleong, 2006: 325). Dalam penelitian kualitatif, ketergantungan sebagai ciri keabsahan data dimaknai sebagai adanya faktor-faktor yang saling terkait yang harus dihubungkan oleh seorang peneliti, baik data, sumber data, teknik pebggalian data atau instrumen yang digunakan, hingga konteks setiap peristiwa yang ditemui dalam setiap penelitian (Ibrahim, 2015: 120).
3.     Kriteria kepastian (comfirmability) sebagai ciri keabsahan data dalam penelitian kualitatif bermakna adanya kepastian terhadap setiap data yang didapatkan. Artinya bahwa, secara alamiah setiap data yang diperoleh dapat diterima, diakui dan di setujui kebenarannya, terutama oleh sumber data (seseorang atau banyak orang) (Ibrahim, 2015: 121)
Dengan demikian dapat dipahami bahwa kebenaran (keabsahan) data sebuah penelitian dapat dilihat dari derajad ketepercayaan, keteralihan, ketergantungan, dan kepastian. Untuk menguji setiap data penelitian yang dilakukan memenuhi kriteria kebenaran (keabsahan) sebagaimana diatas.
3.     Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Berdasarkan beberapa sumber buku metodologi penelitian, kita menemukan ada banyak teknik pemeriksaan keabsahan data yang sering digunakan. Dalam bukunya metodologi penelitian kualitatif, Moleong menguraikan beberapa teknik pemeriksaan data yang lazim digunakan, sesuai dengan kriteria masing-masing (Moleong, 2006: 326-327). Berikut adalah beberapa teknik pemeriksaan keabsahan data yang sering digunakan yaitu :
a.      Perpanjangan Keikutsertaan
Sebagaimana karakter penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen itu sendiri (self instrument) dan alat utama dalam penelitian (key insrtument). Karena itu keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam proses penelitian, terutama dalam pengumpulan data. Keikutsertaan yang dimaksudkan dalam penelitian adalah proses dan aktivitas dimana seorang peneliti hadir bersama, mengamatai, melihat, memahami bahkan tinggal barsama objek (masyarakat/perkampungan) yang diteliti dalam rangka pengumpulan data (Ibrahim, 2015: 122).
Setiap paneliti pada dasarnya telah menyiapkan diri untuk terjun kesebuah masyarakat demi mendapatkan data penelitian yang diinginkan. Dengan 1 atau 2 bulan keberadaan peniliti dilapangan, mungkin banyak data yang sudah didapatkan. Bahkan semua data yang dinginkan sudah diperoleh. Peneliti perlu memeriksa kembali data-data tersebut, apakah semuanya banar-banar sudah benar (absah). Apakah sudah bisa dijamin tingkat ketepercayaannya dan kepastian datanya? Disinilah peneliti bisa menggunakan teknik perpanjangan keikutsertaan untuk memastikan keabsahan data yang diperoleh, dengan cara menambah waktu penelitian dilapangan (Ibrahim, 2016: 122)
b.     Ketekunan Pengamatan
Pengamatan merupakan teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam peelitian. Dalam penelitian sosial yang berifat kualitatif, pengamatan menjadi teknik utama dan memiliki peran yang sangat signifikan. Melalui pengamatan seorang peneliti bisa memahami keadaan objek mempelajari situasinya, menjelaskan dan menafsirkannya menjadi sebuah data penelitian (Ibrahim, 2015: 123).
Sebagai sebuah teknik pengumpulan data, hasil pengamatan sangat bergantung pada keadaan seorang pengamat (peneliti), baik yang bersifat internal (psikologis) maupun eksternal (situasi dan kondisi yang diamati). Karena itu, teknik pengamatan mesti dilakukan dengan lebih tekun, guna menghasilkan data yang benar dan akurat.
c.      Triangulsi
Secara sederhana triangulasi dapat dimaknai sebagai teknik pemeriksaan data penelitian dengan cara membanding-bandingkan antara sumber, teori, maupun metode/teknik penelitian. Karena itu, Moleong membagi teknik pemeriksaan keabsahan data ini kepada triangulasi sumber, triangulasi metode/teknik dan triangulasi teori (Moleong, 2006: 330-331).
Menurut patton (1987), triangulasi teknik/metode dapat dilakukan dengan jalan:
1)     Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2)     Memandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
3)     Membandingkan apa yang dikatakan orang dalam waktu tertentu (waktu penelitian) dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
4)     Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang berpendidikan, orang kaya, pemerintah, dan sebagainya.
5)     Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokomen yang berkaitan.
Sedangkan triangulasi teori dilkakukan dengan cara membandingkan beberapa teori yang terkait secara langsung dengan data penelitian. Menurut moleong (2006: 331-332), dengan triangulasi teori ini seorang peneliti berasumsi bahwa jika analisis telah menguraikan pola, hubungan, dan menyertakan penjelasan yang muncul dari analisis, maka penting sekali untuk mencari tema atau penjelasan pembanding atau penyaring.
Dengan teknik triangulasi, setidaknya ada tiga jalan yang dapat dilakukan oleh peneliti menurut Moleong, (2006: 332), yakni:
1)     Mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan.
2)     Mengeceknya dengan berbagai sumber data.
3)     Memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan ketepercayaan data dapat dilakukan.
Teknik triangulasi seorang peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode/teknik, atau teori.
d.     Pengecekan Sejawat
Pengecekan teman sejawat dilakukan sebagai salah satu tenkik pemeriksaan keabsahan data dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang di peroleh dalam bentuk diskusi bersama rekan-rekan sejawat. Teknik ini juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan teman-teman sebaya, yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang diteliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat me-reviu persepsi, pandangan dan analisis yang sedang dilakukan (Ibrahim, 2015: 126).
e.      Kecukupan Referensi
Kecukupan referensi dalam konteks ini bermakna tersedianya berbagai sumber yang dapat digunakan untuk menjelaskan data-data suatu penelitian. Artinya bahwa, peneliti memiliki banyak sumber yang dapat digunakan untuk menjelaskan data-data penelitiannya, baik sumber manusianya (berupa sumber), maupun sumber bahan berupa buku-buku rujukan. Ketersediaan sumber rujukan akan sangat menentukan derajad kepercayaan sebuah hasil penelitian. Sebaliknya ketak-tersediaannya sumber rujukan akan menjadi kesulitan tersendiri dalam pekerjaan penelitian (Ibrahim, 2015: 127).
Kecukupan resensi sebagai salah-satu teknik pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan dengan cara menghimpun sebanyak mungkin sumber dukungan dalam penelitian, baik sumber manusianya (berupa narasumber data di lapangan) maupun sumber bahan rujukan yang relevan berupa buku-buku kepustakaan, laporan penelitian dan karya-karya ilmiah lainnya.
f.      Kajian Khusus Negatif
Teknis analisis kasus negatif dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpukan dan digunakan sebagai bahan pembanding. Sebagai contoh adalah pelatihan penyiaran, dimana sebagian peserta pelatihan ada yang berhasil dengan baik dan telah menjadi penyiar terkenal. Peserta yang tidak mengikuti pelatihan dengan benar, kurang serius bahkan meninggalkan pelatihan sebelum waktunya selesai, diambil sebagai kasus untuk meneliti kekurangan atau kelemahan dari program pelatihan penyiaran yang dilakukan. Kasus negatif demikian dilakukan untuk menjelaskan hipotesis kerja alternatif sebagai upaya meningkatkan argumentasi terhadap temuan-temuan penelitian.


g.     Pengecekan Anggota
Teknik berikutnya yang dapat digunakan dalam memeriksa keabsahan data adalah pengecekan dengan anggota ynag terlibat dengan proses pengumpulan data, baik tim peneliti (interviewer, observer, anumerator, atau surveyor) maupun subjek yang diteliti (narasumber dan atau informan). Pengecekan dimaksud meliputi data, kategori analitis, penefsiran, dan kesimpulan.
Pentingnya teknik pengecekan anggota untuk menguji keabsahan data setidaknya didasarkan pada beberapa ,amfaatnyya menurut Moleong ( 2006: 335), yakni:
1)     Adanya kesempatan untuk mempelajari secara sengaja apa yang dimaksudkan oleh responden dengan jalan bertindak dan berlaku secara tertentu, atau memberikan informasi tertentu.
2)     Adanya kesempatan kepada responden/informan untuk segera memperbaiki kesalahan dari data menantang suatu penafsiran yang barangkali salah.
3)     Adanya kesempatan bagi responden/informan untuk dapat memberikan data tambahan, dengan membaca konsep (ikhtisar) sementara yang sudah dibuat.
4)     Adanya kesempatan bagi peneliti untuk mencatat persetujuan atau keberatan responden/informan terhadap ikhtisar sementara yang dibuat oleh peneliti.
5)     Adanya kesempatan bagi peneliti untik memperbaiki ikhtisar sementara penelitiannya sebelum melangkah pada analisis akhir data penelitian.
6)     Adanya kesempatan bagi responden/informan untuk mrngadakan penilaian terhadap keseluruhan data (pengecekan menyeluruh).
h.     Uraian Rinci
Uraian rinci (Thick Description) merupakan teknik yang khas dalam penelitian kualitatif. Hal ini sesuai dengan karakterisrik penelitian kualitatif dalam membangun keteralihan (transferability) yang sangat berbeda dengan non kualitatif dengan validitas eksternalnya. Keteralihan dalam kualitatif sangat bergantung pada pengetahuan seorang peneliti (dalam konteks pengirim) dengan pembaca (konteks penerima). Karena itu peneliti dituntut untuk dapat melaporkan hasil penelitiannya secara rinci, teliti dan secermat mungkin agar mampu menggambarkan dengan baik dan benar konteks penelitian yang dilakukan.
i.       Auditing
Auditing sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahan data dapat dipilah menjadi dua, yakni audit kepastian (confirmability auditing) dan audit kebergantungan (dependability auditing). Teknik auditing sesungguhnya adalah konsep di dunia bisnis, khususnya bidang fiskal yang digunakan untuk memeriksa kebergantungan dan kepastian data, baik menyangkut proses, maupun hasil atau keluaran (Moleong, 2006)
Untuk menjalankan teknik auditing dalam pemeriksaan keabsahan data peneliti perlu melakukan proses klasifikasi sebagaimana disarankan oleh Helpern (Dalam Lincoln Dan Guba, 1985) dalam buku Moleng (2006). Klasisfikasi tersebut meliputi:
1)     Data mentah; perlunya memeriksa kembali bahan-bahan rekaman, catatan lapangan, dokomen, foto dan semacamnya.
2)     Data yang direduksi dan hasil analisis; perlunya memeriksa kembali catatan lapangan lengkap, ikhtisar catatan, catatan teori, konsep, hipotesis kerja, dan semacamnya.
3)     Rekonstruksi data dan hasil sintesis; perlunya memeriksa ulang struktur kategori, tema, definisi, hubungan-hubungan, temuan, kesimpulan, kepustakaan dan semacamnya.
4)     Catatan tentang proses penyelenggaraan; termasuk metodologi, rasionalitas, dan semacamnya.
5)     Bahan yang berkaitan dengan maksud dan keinginan; termasuk usulan penelitian dan reflektif, catatan reflektif; pribadai dan motivasi, harapan dan sebagainya.
6)     Informasi tentang pengembangan instrumen; termasuk formulir penjajakan, jadwal pendahuluan, format pengamat, harapan dan sebagainya.
Dengan demikian, proses auditing dalam pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan dengan tahapan pra-entri, penetapan hal-hal yang dapat diaudit, kesepakatan formal, dan penentuan keabsahan data. Teknik auditing juga dapat menjadi salah satu pilihan bagi peneliti dalam memastikan kebenaran dan keabsahan data yang diperoleh, sehingga tahap ketepecayaan data dan hasil penelitiannya didapatkan.
Dengan kata lain, semua teknik pemeriksaan keabsahan data semuanya memiliki kekuatanya masing-masing dan dapat dipilih bagi peneliti kualitatif. Hanya saja peneliti perlu menyesuaikan pilihan teknik dengan karakteristik data dan bentuk penilaian yang dilakukan. Lazimnya dalam satu penelitian, kita dapat menggunakan 2 sampai 5 teknik pemeriksaan keabsahan data secara bersama-sama, bergantung pada kebutuhan penelitian (Ibrahim, 2015: 131).



                                                                                                                                                






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (realiabilitas) menurut versi positvisme dan disesuaikan dengan tununan pengetahuan, kreteria dan paradigm sendiri. Mula-mula hal itu harus dilihat dari segi krieria yang digunakan oleh nonkualitatf. Istilah yang di gunakan oleh mereka antara lain ialah validasi internal, vadilitas eksternal, dan reliabilitas,ntuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan (pengujian). Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu.
Ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan( credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). teknik pemeriksaan juga harus di lakukan untuk keabasahan sebuah data seperti yang di paparkan di BAB II.
B.    Saran
Pemakalah berharap setelah membaca makalah ini, pembaca tidak menjadikan sebagai bahan rujuan utama, karena masih banyak terdapat kesalahan di makalah ini, selain itu jika terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini sudilah jika pembaca memberikan kritik dan saran.













DAFTAR PUSTAKA

        Ibrahim, 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Alpabeta.
        Kasemin,Kasiyanto. 2015. Agresi Perekembangan Teknologi Informasi. Jakarta : PT Fajar Interpermata.
        Moloeng Lexy  J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya.