Lembaga-Lembaga Keislaman di Kesultanan Sambas

Lembaga-Lembaga  Keislaman di Kesultanan Sambas


Ini adalah hasil Review buku Perkembangan Islam di Kesultanan Sambas karya Risa, untuk pemesanan bias cari di ig @jualsemuabuku, oke langsung aja gengs, kita akan mereview bagaiamana sih system pendidikan Islam di Kabupaten Sambas, dan bagaiman track record kerajaan Islam, yuk simak gengs.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syaifudin II (1866-1922), Islam mengalami perkembangan yang cukup berarti ditandai dengan perkembangan lembaga keislaman seperti lembaga pendidikan Islam dan lembaga keagaman. Fenomena kedua lembaga tersebut sebenarnya bukan hal-hal yang baru karena wujud lembaga pendidikan Islam telah ada pada masa pemerintahan. Sultan Sambas ke-2 Muhammad Tajuddin (1669-1702), demikian juga cikal bakal lembaga keagaman telah tampak saja masa pemerintahan sultan
Membahas tentang perkembangan lembaga pendidikan Islam dan lembaga keagamaan berarti menguraikan tahap-tahap perkembangan kedua lembaga itu mulai dari tahap sederhana sampai taraf yang lebih baik. Selanjutnya akan di bahas pula tentang faktor-faktor yang mendorong perkembangan kedua lembaga terebut, untuk menunjukan kelanjutan perkembanag Islam di kesulatanan Sambas, sebagai bagian dari kajian sejarah, pada bagian akhir tulisan ini akan di ungkapkan pengaruh perkembanagn lembaga keislaman terhadap Sambas berikutnya. ya memang lembaga pendidikan Islam sangat penting, hal ini juga sudah dipikirkan para pemimpinan untuk kelanjutnya generasi bangsa ini.

Lembaga Pendidikan Islam

 Lembaga Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan sarana penekanan generasi muda di satu sisi dan sarana dakwah dalam konteks yang lebih luas di sisi lainya sehingga keberadaan lembaga pendidikan islam menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemajuan suatu daerah. Kesultanan Sambas perkembangan lembaga pendididkan tersebut berkaitan erat dengan perkembangan lembaga itu sendiri, mulai dari tahap yang lebih modern, karena itu pada bagian ini akan di jelaskan perkembangan lembaga pendidikan Islam mulai dari lembaga pendidikan surau, sekolah Melayu Al-Sultaniyah sampai pada madrasah. pada awalanya memang lembaga pendidikan Islam di mulai di tempat-tempat umum dan banyak di kunjungi seperti di bawah ini:

Surau (1866-1916)

Pendidikan Islam yang di pustakan di surau atau masjid merupakan model pendidikan tradisononal yang paling tua di Kesultanan Sambas, sebagiamana telah di jelaskan seblumnya bahwa pendidikan semacam ini telah ada sejak masa pemerintahan Sultana Muahammmad Syaifudin II. Lembaga pendidikan surau tetap bertahan meskipun telah berdiri sekolah melayu al-Sultaniyah. Hal itu di karenakan sekolah Melayu yang di dirikan  sultan masih bersifat eksklusif sehingga lembaga pendidikan surau merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang dapat di nikmati oleh masyarakat umum. Karena itu, pembatasan periode perkembangan lembaga pendidikan surau pembahasan ini akan di batasi sampai awal kemunculan madrasah al-sultaniyah tahun 1916 M. hal tersebut di kareakan madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang terbukan untuk masyrakat umum serta menawarkan system pendidikan yang lebih dalam.
Lembaga pendidikan surau pada masa itu cukup berkembang dengan baik karena merupakan bentuk lembaga pendidikan alternative  bagi masyrakat umum. Meskipun belum ditemukan laporan khusus mengenai pendidikan Islam, termasuk lembaga pendidikan surau dalam sumber belanda. Namun setidaknya Pj veth menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan sultan ke 13 tersebut di temukan banya masjid di wilayah kesultanan. Laporan tersebut mengisyrakatkan model pendidikan surau pada masa itu sudah semakin berkembang mengingat sejak awal berdirinya surau atau masjid di Kesultanan Sambas salah satunya di fungsikan sebagai pendidikan Islam.
Pendidikan Islam pada tingkat dasar atau tingkat paling rendah yang di laksanakan di surau masih di pusatkan pada kegiatan membaca Alquran di sebut membaca. Pengajian Al-Quran pada tingkat ini biasanya di lakukan secara berkelompok untuk anak usia 5-10 tahun dengan Sistema halaqah. Pelajaran pertama di berikan pada murid adalah belajar huruf Alquran atau huruf Hijaiyah. Anak diminta untuk mengeja satu demi satu huruf lalu dirangkai dengan kata sehingga terbentuk satu kesatuan kalimat. Bacaaan tersebut di ulangi lagi sehingga murid setengah hafal atu mengenal harakatt setiap kata.
Setelah  murid mengenal huruf-huruf hijaiyah, mereka akan di pindahkan membaca Juz Amma atau di sebut al Quran kecil hingg tamat, baru kemudian beralih membaca juz pertama  Al-Quran yang di sebut dengan Al-quran besa. Cara guru membimbing adalah dengan bergiliran setelah murid pertama belajar kemudian setelah selesai dan digantikan oleh murid selanjtunya setelah selesai agar bacaanya lancar. Setelah menamatkan pelajaran Al-Quran tersebut biasanya akan diselenggaraka khtaman. Inilah tingkat dasar pendidikan Quran. Kegiatan mengaji Al-Quran seperti ini hampir ditemukan di seluruh Nusantara, sebagaimana yang di gambarkan snouch horgonje


Setelah pendidikan pada tingkat dasar biasanya akan di teruskan dengan pengajian tingkat lanjut yang di khususkan bagi anak-anak remaja, pendidikan pada tingkat lanjutan tidak hanya terpusat pada Al-Quran, tetapi mulai di ajarkan ilmu-ilmu lainya seperti nahwu,saraf, semacam ilmu ushul yang memuat materi tentang rukun iman dan rukum islam dengan menggunakan kitab perukunan karya al Barjanji

Sekolah Melayu Al Sultaniyah
Pada awal masa pemerintahanya yaitu 1868, Sultan Muhammad Syaifudin II mendirikan sekolah khusus untuk mendidik para elit pemerintahan. Terkait dengan nama lembaga pendidikan tersebut dalam beberapa sumber local menyebutnya Madrasah Al Sultaniyah. Terminology madarasah yang di maksudkan itu sebenarnya masih belum jelas, mungkinkah yang di maksudkan itu sebenarnya tempat duduk untuk belajar berasama. “madrasah merupakan isim makan dari darasa yang berarti tempat duduk. Sebab menurut Mahmud Yunus, madrasah pertama di dirikan di Indonesia adalah sekolah Adabiyah di Padang.
Model pendidikan Islam untuk kalangan elit yang di pusatkan istana sebenarnya fenomena baru, sebagaimana telah disebutkan

Madrasah al Sultaniyah (1916-1936)
Merupakan bentuk perkembangan dari sekolah Melayu yang berdiri pada 1916. Kemunculan tersebut di sambut dengan antusias masyaraat kesultanan untuk menyekolahkan anak mereka pada lemabaga pendidikan yang lebih modern. Bentuk antusias masyrakat dapat di lihat dari jumlah anak yang bersekolah di Madrasah Al Sultaniyah.

Kondisi nyata lembaga pendidikan Islam :

Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan lembaga pendidikan Islam, unsur –unsur tersebut mencakup metode,kurikulum, evaluasi dan lain sebagainya, lembaga pendidikan Islam dalam konteks ini adalah surau dan sekolah melayu al Sultaniyah.
Intelektualisme Islam
Posisi Sultan dalam politik melayu tradisional merupakan sosok terpenting yang mengatur pemerintahan kesultanan, yaitu sebagai pemegang otoritas politik sekaligus otoriras keagamaan
Faktor Eksternal :
Perekonmian yang membaik :
Sebelum masa pemerintahan Sultan Muhammad Syaifudin II, perekonomian kesultanan Sambas mengalami kemunduran pasca serangan inggris pada 1813 M dan pertikaian antarkongsi Cina yang terus berlangsung sampai 1854.


sumber gambar : bukalapak.com