Pentingnya Peningkatan Minat Baca di Kalimantan Barat

Pentingnya Peningkatan Minat Baca di Kalimantan Barat
sumber gambar Ig: @dutabacakalbar :
salah satu dokumentasi yang dilakukan duta Baca Kalbar untuk meningkatkan minat baca Kalbar.

Kalimantan Barat merupakan daerah yang memiliki potensi dari berbagai sektor. Potensi tersebut seharusnya memberikan keuntungan bagi Kalimantan Barat untuk menggali sumber daya alam, dan sektor lainya serta dikelola oleh masyarakat. Jumlah penduduk di Kalimantan Barat memberikan bonus demografi, sehingga tingginya sumber daya manusia dapat membawa negara Indonesia menjadi negara yang maju dan memiliki daya saing tinggi terhadap negara lain. Demi mendukung kualitas sumber daya manusia, upaya yang harus kita lakukan adalah dengan meningkatkan minat baca di Kalimantan Barat, terutama generasi muda serta anak-anak karena mereka lah yang akan menjadi tali estafet para pemimpin yang sekarang.
Semakin tinggi minat baca di suatu daerah maka akan mempengaruhi kualitas masyarakat di daerah tersebut. Negara maju di berbagai belahan dunia memiliki semangat literasi yang tinggi, menurut (UNESCO,  2005), mahasiswa di negara industri maju rata-rata membaca delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang hanya dua jam per hari. Berbeda dengan Program For International Student Assesment (PISA, 2009), melakukan studi tentang minta baca terhadap 65 negara dari studi tersebut Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara tentang minat bacanya, di Kalimantan barat khusunya menurut data Indeks Pembangunan Manusia (IPM,  2008) Kalimantan Barat menduduki urutan ke-29 dari 34 Provinsi dengan indeks sebesar 68,17 di bawah rata-rata indeks Nasional yang berada pada rentang 71,17.

Jika minta baca di Kalbar rendah maka keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan merembah ke seluruh penjuru Kalimantan Barat, seperti yang dikatakan oleh Untad Dharmawan kepala UPT Perpustakaan daerah Provinsi Kalimantan Barat, minat baca masyarkat yang rendah akan berdampak buruk ke depannya (Tribun Pontianak, kamis 8 Desember 2016). keruntuhan peradaban ini bukan hanya di sebabkan oleh masalah politik dan kekuasaan, yang paling utama adalah hilangnya budaya membaca, padahal membaca adalah kunci untuk membuka gudang pengetahuan.

“Membaca adalah menggenggam peradaban dalam rangka menerbitkan cahaya harapan bangsa”. Menurut Liansyah dalam opininya yang berjudul Rekayasa Budaya Literasi (Harian PontianakPost, November 2017) mengatakan bahwa perlunya usaha untuk membentuk sebuah budaya literasi, di antaranya budaya baca agar terciptanya sumber daya manusia yang siap bersaing dalam pertarungan globalisasi. Dalam konteks ke Indonesiaan, tragedi kemiskinan dan kemelut pendidikan yang sedang terjadi sekarang ini adalah salah satu akibat dari tidak adanya kesadaran akan membaca dan rendahnya minat baca, fenomena pengangguran intelektual tidak akan terjadi jika pemuda/i memiliki semangat membaca yang membara.

Iqra! Read! Leses ! dalam bahasa Indonesia nya bacalah, kata perintah ini bukanlah sekadar kata, melainkan firman Allah Swt dalam surah Al-alaq ayat pertama Iqra, Bacalah, mengandung perintah pasif menjadi aktif, dari diam menjadi bergerak, dari tidak tahu menjadi tahu, dengan demikian siapapun yang ingin menguasai perdaban harus memiliki budaya membaca yang tinggi. Syarat untuk menjadi orang besar dan pahlawan ialah berpikir besar atau memiliki cita-cita yang tinggi, dan syarat fundamental untuk menggapai semua mimpi itu adalah dengan mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya, yang instrumen utamanya adalah membaca (Suherman  2010 :151).