Kompetensi Inti

1.      Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

agama yang dianutnya

2.      Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleran, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya

3.      memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

4.      Mencoba, mengolah dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

 

Kompetensi Dasar :

1.11. menghayati perjuangan Nabi Muhammad saw. periode Makkah dalam menegakkan risalah Allah Swt.

2.11. meneladani perjuangan Nabi Muhammad saw. periode Makkah

3.11. memahami sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. periode Makkah

4.11. menyajikan strategi perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. periode Makkah

 

Tujuan Pembelajaran

1.      Peserta didik mampu menyebutkan perjuangan Nabi Muhammad saw. periode Makkah dalam menegakkan risalah Allah Swtdengan benar.

2.      Peserta didik mampumeneladani perjuangan Nabi Muhammad saw. periode Makkah  dengan benar.

3.      Peserta didik mampu menyebutkan . memahami sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. periode Makkah dan benar.

4.      Peserta didik mampu mendemonstrasikan dan menyajikan strategi perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. periode Makkah dengan benar.

 

 

 

 

 

 


PETA KONSEP



Perjuangan Nabi Muhammad Saw Mekkah

Sejarah Nabi Muhammada saw di Mekkah

Silsilah Keluarga Nabi Muhammad Saw

Startegi Perjuangan Nabi Muhammad Saw di Mekkah
 






MAKALAH

MASAIL FIQIYAH

ASURANSI DAN BUNGA BANK

DOSEN PENGAMPU : Abdul Hakim, M. H. I

 


Disusun Oleh :

Kelompok 11

Semester IV D

RizqaAllafta (11511250)

Nurul Huda (11611147)

Liansyah (11611018)

 

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

PONTIANAK

2018

 
 
 
 
 
 
          Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salah satu wujud dari rasa syukur kepada Allah SWT atas selesainya makalahdengan Mata KuliahMasailFiqiyahpada semester IV D adalah dengan mengucapkan alhamdulillah dan memanfaatkan makalah ini sesuai yang diharapkan. Shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
MasailFiqiyah yang akan dibahas dalam makalah ini ialah mengenai AsuransiDanBunga Bank. Dimana dengan membuat makalah ini, orang yang membacanya dapat memahami, menghayati, apa saja yang ada didalampenulisanmakalahini. Selesainya makalah ini atas bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak. Terima kasih yang tidak terhingga diucapkan kepada semuanya. Allah Yang Maha Bijaksana telah memberikan alasan terbaik atas mereka. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat sesuai harapan bersama.
Kami sadar bahwa dalampenyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasa maupun penulisannya. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dimasa yang akan datang.
 
 
Pontianak, 3 April 2018
                                                                                               
                                                                                                                       
                                                                                                                        Penulis
 
 
DAFTARI ISI
 
Kata pengantar .................................................................................................  i
Daftar Isi .........................................................................................................  ii      
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang .........................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah..................................................................................... 2
C.     Tujuan Penulisan Makalah .......................................................................  2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Asuransi dan Bunga Bank .....................................................  3
1.      Landasan hokum Al-qur’an .................................................................  6
2.      Al-Hadist .............................................................................................  8
B.     Pendapat Ulama .....................................................................................  10
1.      Imam Hanafi .....................................................................................  10
2.      Imam Maliqi ......................................................................................  10
3.      Imam Syafii .......................................................................................  10
4.      Imam Hambali ...................................................................................  10
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ............................................................................................  11
B.     Saran ......................................................................................................  11
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................  12
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap orang akan senantiasa berhadapan dengan kemungkinan terjadinya malapetaka dan bencana dan membawa kerugian dalam hidupnya. Sebagai seorang muslim, kita yakini bahwa rangkaian peristiwa tersebut bisa jadi berupa cobaan, teguran maupun azab yang datangnya dari Allah. Dalam tataran tersebut, semuanya berada dalam bingkai jargon agama qadha dan qadar Allah yang berlaku bagi semua makhluk-Nya. Manusia dituntut untuk menghadapi peristiwa-peristiwa itu dengan segala upaya, ikhtiar dan do’a agar apa yang menderanya dapat diminimalisir dampak yang diakibatkannya.
Resiko dimasa mendatang dapat berupa sakit, kecelakaan, bahkan kematian.Dalam dunia bisnis, resiko yang dihadapi dapat berupa kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau kehilangan maupun resiko-resiko lainnya.Oleh karena itu, setiap resiko harus ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Untuk mengurangi resiko yang tidak kita inginkan dimasa yang akan datang, orang kemudian membutuhkan suatu model untuk dapat menanggung berbagai kerugian yang akan ditanggung. Salah satu cara menghadapi kemungkinan terjadinya bencana atau malapetaka tersebut ialah dengan menyimpan atau menabung uang. Dalam hal ini, perusahaan yang mau dan sanggup menanggung setiap resiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya adalah perusahaan asuransi.
Dalam perusahaan asuransi, biasanya tidak lepas dari yang namanya kegiatan perbankan.Dan kegiatan perbankan selalu dikaitkan dengan masalah uang dan bunga.Dunia perbankan dengan sistem bunga kelihatannya semakin mapan dalam perekonomian modern, sehingga hampir tidak mungkin menghindarinya, apalagimenghilangkannya.Padahal bank pada saat ini merupakan kekuatan ekonomi masyarakat modern, terutama di Negara-negara Barat.
Sedangkan dalam Islam, bunga bank dikenal dengan istilah riba.Islam tidak mengakui sistem perbankan modern dalam arti praktis, sehingga terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang bunga bank. Beda pandangan dalam menilai persoalan bunga bank akan memunculkan kesimpulan-kesimpulan fiqih yang berbeda pula, dalam hal halal dan haramnya dan boleh tidaknya. [1]
Berdasarkan latar belatang di atas, maka penyusun ingin membahas lebih jelas lagi mengenai materi tentang asuransi dan bunga bank menurut landasan hukum dan para ahli di dalam makalah ini.
B.     Fokus/ Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi fokus masalah dalam makalah ini ialah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian asuransi dan bunga bank?
2.      Apa landasan hukum tentang asuransi dan bunga bank menurut Al-quran dan Hadist?
3.      Bagaimana pendapat para ulama tentang asuransidan bunga bank?
C.    Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua macam tujuan, yang pertama secara umum dan yang kedua secara khusus.Adapun tujuan penulisan makalah ini secara umum ialah untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Masail Fiqiyah dengan judul tentang Asuransi dan Bunga Bank yang diampu oleh Dosen Abdul Hakim, M. H. I, sedangkan tujuan penulisan makalah secara khusus ialah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian asuransi dan bunga bank.
2.      Untuk mengetahui landasan hukum tentang asuransi dan bunga bank menurut Al-Qur’an dan Hadist.
3.      Untuk mengetahui pendapat para ulama tentang asuransi dan bunga bank.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Asuransi dan Bunga Bank
1.      Asuransi
Kata asuransi berasal dari bahasa Belanda, assurantie, yang dalam hukum Belanda disebut Verzekering yang artinya pertanggungan.Dari peristilahanassurantie kemudian timbul istilah assuradeur bagi penanggung, dan geassureerde bagi tertanggung.[2]Dalam ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa asuransi ialah jaminan atau pertanggungan yang diberikan oleh penanggung (biasanya kantor asuransi) kepada yang bertanggung untuk risiko kerugian sebagai yang ditetapkan dalam surat perjanjian (polis) bila terjadi kebakaran, kecurian, kerusakan, dan sebagainya ataupun mengenai kehilangan jiwa (kematian) atau kecelakaan lainnya, dengan yang bertanggung membayar premi sebanyak yang ditentukan kepada penanggung tiap-tiap bulan.[3] Sementara itu, pengertian asuransi (insurance) menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Dalam undang-undang tersebut didefinisikan bahwa:
“Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih; pihak penanggung mengikatkan diri kepada bertanggung degan menerim premi asuransi, untuk memberikan kepadaa tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.”
Sedangkan menurut Jubran Ma’ud[4], mengatakan bahwa asuransi dalam bahasa arab disebut at-ta’min, penanggung disebut mu’ammin, sedangkan tertanggung disebut mu’amman lahu atau musta’min.  At-ta’min (                  ) diambil dari kata (            ) memiliki arti memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut.[5]
“Men-ta’min-kan sesuatu, artinya adalah seseorang membayar/ menyerahkan uang cicilan untuk agar ia atau ahli warisnya mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk mendapatkan ganti terhadap hartanya yang hilang, dikatakan ‘seseorang mempertanggungkan atau mengasuransikan hidupnya, rumahnya atau mobilnya’.”[6]
Menurut Mushtafa Ahmad Zarqa dalam  Muhammad Syakir Sula[7]mengatakan bahwa makna asuransi secara istilah adalah kejadian. Adapun metodologi dan gambarannya dapat berbeda-beda, namun pada intinya, asuransi adalah cara atau metode untuk memelihara manusia dalam menghindari risiko (ancaman) bahaya yang beragam yang akan terjadi dalam hidupnya, dalam perjalanan kegiatan hidupnya atau dalam aktivitas ekonominya.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat dikemukakan bahwa pada dasarnya asuransi atau pertanggungan merupakan suatu ikhtiar dalam rangka menanggulangi adanya risiko.
Secara umum, yang dimaksud dengan risiko menurut Hartono dalam Gibtiah[8] menyebutkan bahwa setiap kali orang tidak dapat menguasai dengan sempurna, atau mengetahui lebih dahulu mengenai masa yang akan datang. Artinya risiko dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.       Kemungkinan kehilangan atau kerugian.
b.      Kemungkinan penyimpangan harapan, yang tidak menguntungkan karenaa kemungkinan penyimpangan harapan merupkan suatu kehilangan.
2.      Bunga Bank
Sebelum kita membahas mengenai apa sebenarnya bunga bank, terlebih dahulu kita harus pahami apa yang disebut dengan riba. Karena dari pemahaman riba inilah pada akhirnya kita bisa menyimpulkan apakah bunga bank itu haram ataukah halal.
Menurut Abduh  Al-Baraq[9] mengemukakan bahwa riba secara bahasa diartikan sebagai “ziadah/tambahan”. Sementara itu jika dilihat dari syariat, riba adalah penyerahan pergantian sesuatu dengan sesuatu yang lain yang tidak dapat terlihat wujud kesetaraannya menurut timbangan syaraketika akad, atau disertai kelebihan pada akhir proses tukar-menukar, atau hanyaa salah satunya.
Riba, dalam bentuk apa pun muncul karena adanya bentuk perbedaan, perubahan, atau tambahan yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. Jika kita melihat dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa bunga bank merupakan sesuatu yang haram, karena di dalamnya tidak terdapat kejelasan dan juga adanya perubahan barang ketika diawal diserahkan dengan ketika diserahkan kemudian. Riba, bagi penggunanya, yang membantu proses riba tersebut, memakannya, mencatatnya, dan mempermainkannya (misalnya mengubah-ubah akad agar menutupi riba tersebut agar tidak dianggap riba), mereka semuaa terkena dosanya.
Pada akhirnya, tanpa disadari mereka memberikan makanan yang haram secara perolehannya.Memakai pakaian yang haram dari mendapatkan uang untuk membeli pakaian tersebut kepada diri dan keluarganya. Dan perbuatan tersebut akan tumbuh ke dalam diri seseorang dan mempengaruhi kejiwaan orang tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.
Sedangkan pengertian bunga bank menurut Kasmir[10], menyebutkan bahwa bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga juga dapat diartikan sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dengan yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memperoleh pinjaman ).
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bunga bank berarti
B.     Landasan hukum
Dikalangan umat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. Allahlah yang menentukan segala-galanya dan yang memberikan rezeki kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah:
1.      Al-qur’an
rre.pngSurah Hud (11) ayat 6:
 
 
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
Surah an-Naml (27) ayat 64:
 
rre.png
Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".
 
Surah al-Hijr (15) ayat 20:
rre.png
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya
 
Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami, bahwa Allah telah menyiapkan segala-galanya untuk keperluan semua makhluknya, termasuk manusia sebagai khalifah dimuka bumi.Allah telah menyiapkan bahan mentah, bukan bahan yang telah matang.Manusia perlu mengolahnya, mencarinya, dan mengikhtiarkannya.
Orang yang melibatkan diri ke dalam asuransi ini adalah termasuk salah satu ikhtiar untuk menghadapi masa depan (hari tua). Namun karena masalah asuransi ini tidak ada dijelaskan secara tegas dalam nash, maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihad, yaitu perbedaan pendapat sukar dihindari dan perbedaan pendapat tersebut juga mesti dihargai.
2.      Al-Hadist
 
Jabir RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikan, menuliskan, dan dua orang yang menyaksikannya.’ Ia berkata: ‘mereka berstatus hukum sama’. (HR.Muslim)
hadits riba.jpg                       
 
Dari Jabir r.a. ia berkata, ‘Rasulullah saw. telah melaknati orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya, (dan  selanjutnya), Nabi bersabda, mereka itu semua sama saja’.”
 
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ تَذَاكَرْنَا عِنْدَ إِبْرَاهِيمَ الرَّهْنَ وَالْقَبِيلَ فِي السَّلَفِ فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِشْتَرَى مِنْ يَهُودِي طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ.(رواه البخاري)
(BUKHARI – 2326) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Al A’masy berkata; kami menceritakan di hadapan Ibrahim tentang masalah gadai dan pembayaran tunda dalam jual beli. Maka Ibrahim berkata; telah menceritakan kepada kami Al Aswad dari ‘Aisyah bahwa Nabi pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan pembayaran tunda sampai waktu yang ditentukan, yang Beliau menggadaikan (menjaminkan) baju besi Beliau.”
Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqasy, telah bersabda rasulullah saw: “lebih baik jika engkau meninggalkan anak-anak kamu (ahli waris) dalam keadaan kaya raya, dari pada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin (kelaparan) yang meminta-minta kepada manusia lainnya.” (H.R Bukhari).
Hadis Imam Ibnu Majah no. 2280
Barangsiapa melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui" (H.R. al-Bukhari dalam Sahihnya
Hadis Imam Abu Dawud dan Imam al-Hakim
"Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau yang menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."
 
 
 
 
 
 
 
C.    Pendapat Ulama
Asuransi menurut pandangan Islam adalah termasuk masalah ijtihadiyah, karena tidak ada penjelasan hukumnya baik di dalam Al-Quran maupun al-Hadist secara eksplisit. Para imam mahzab seperti Abu Hanifah (wafat 150 H/767 M), Malik (wafat 179 H/795 M), Syafi’I (wafat 204 H/819 M), dan Ahmad (wafat 241 H/855 M) dan lama mujtahidun lainnya yang semasa dengan mereka (abad II dan II H/VIII  dan IX M) tidak memberikan fatwa hukum terhadap masalah asuransi, karena asuransi belum dikenal pada waktu itu, sebab sistem asuransi di dunia timur dikenal pada abad XIX Masehi, sedangkan di dunia barat sekitar XIV M.[11]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa :
1.      Asuransi ialah
2.      Landasan hukum menurut Al-Qur’an & Hadist tentang Asuransi dan bunga bank ialah
3.      Pendapat para ulama tentang asuransi dan bunga bank ialah
 
B.     Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan ialah agar kita khususnya para pembaca makalah ini untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan, senantiasa berserah diri kepada Allah, serta usaha dan tawaqal dalam menghadapi kehidupan yang akan datang.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Iqtishadia.Analisis Bunga Bank Dalam Pandangan Fiqih. Kudus: STAIN Kudus. Vol. 6, No. 2, September 2013. Hlm. 320.
Muhammad Syakir Sula. 2004. Asuransi Syariah (Life and General): Konsep dan System Operasional. Jakarta: GemaInsani. Hlm. 26, Cet. 1.
Ensiklopedi Indonesia. 1980. Iktiar Baru Van Hoeve. Jakarta. Dalam bukunya Gibtiah. 2016. Fikih Kontemporer. Jakarta: Prenada media group (KENCANA). Hlm. 86.
Jubran Ma’ud, Ar-Ra’id, Mujam Lughawy ‘Ashry, Bairut, Dar Al-Isslami  Li Al Malayin, t.t, jilid I, hlm. 30.
Salim Segaf al-jufri, Ar-Ribawa Adh raruhualal Mujtama’ Al-Islami, 1400 H, hlm. 219.
Majma’ulLughah al-Arabiyah, Al-Mu’jam al-Wasit, Mesir, 1960, hlm.27-28. Dalam bukunya Muhammad  Syakir  Sula. 2004. Asuransi Syariah (Life and General): Konsep dan System Operasional. Jakarta: Gema Insani. Hlm. 26, Cet. 1.
Mushthofa Ahmad  zarqa,  Al-Ightishodi Al-Islamiyah-Nidzomutta’min…., Bairut, Dar al-Fikr, 1968. Muhammad Syakir Sula. 2004. AsuransiSyari’ah (Life And General): Konsep dan Sistem Operasional. Jakarta: Gema Insani. Hlm. 29.
Sri Rejenki, Hartono. 1995. Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi. Jakarta: Bumi Aksara.Hlm.61.Dalam bukunya Gibtiah. 2016. Fikih Kontemporer. Jakarta: Prenada media group (KENCANA). Hlm. 87.
Al-Baraq, Abduh. 2010. Bukan Dosa Ternyata Dosa. Yogyakarta: Pustaka Grhatama. Hlm.50 , cet. I.
Kasmir. 2001. Bank & Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: Raja GrafindoPersada. Hlm. 121.
Hamzah Ya’cub.1999. Kode Etik Dagang Menurut Islam.Cv Diponegoro. Cet. III. Bandung. Hlm. 290.Dalam bukunya Gibtiah. 2016. Fikih Kontemporer. Jakarta: Prenada Media Group (Kencana). Hlm. 87.
 


[1] Jurnal Iqtishadia.Analisis Bunga Bank Dalam Pandangan Fiqih. Kudus: STAIN Kudus.Vol. 6, No. 2, September 2013. Hlm. 320.
[2] Muhammad Syakir Sula. 2004. Asuransi Syariah (Life and General): Konsep dan System Operasional. Jakarta: Gema Insani. Hlm. 26, Cet. 1.
[3]Ensiklopedi Indonesia. 1980. Iktiar Baru Van Hoeve. Jakarta. Dalam bukunya Gibtiah. 2016. Fikih Kontemporer. Jakarta: Prenadamedia group (KENCANA). Hlm. 86.
[4] Jubran Ma’ud, Ar-Ra’id, Mujam Lughawy ‘Ashry, Bairut, Dar Al-Isslami Li Al Malayin, t.t, jilid I, hlm. 30.
[5]Salim Segaf al-jufri, Ar-Riba wa Adhraruhu alal Mujtama’ Al-Islami, 1400 H, hlm. 219.
[6]Majma’ul Lughah al-Arabiyah, Al-Mu’jam al-Wasit, Mesir, 1960, hlm.27-28. Dalam bukunyaMuhammad Syakir Sula. 2004. Asuransi Syariah (Life and General): Konsep dan System Operasional. Jakarta: Gema Insani. Hlm. 26, Cet. 1.
[7] Mushthofa Ahmad zarqa, Al-Ightishodi Al-Islamiyah-Nidzomutta’min…., Bairut, Dar al-Fikr, 1968. Muhammad Syakir Sula. 2004. Asuransi Syari’ah (Life And General): Konsep dan Sistem Operasional. Jakarta: Gema Insani. Hlm. 29.
[8]Sri Rejenki, Hartono. 1995. Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi. Jakarta: Bumi Aksara.Hlm.61.  Dalam bukunya Gibtiah. 2016. Fikih Kontemporer. Jakarta: Prenadamedia group (KENCANA). Hlm. 87.
[9]Al-Baraq, Abduh. 2010. Bukan Dosa Ternyata Dosa. Yogyakarta: Pustaka Grhatama. Hlm.50 , cet. I.
[10]Kasmir. 2001. Bank & Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hlm. 121.
[11]Hamzah Ya’cub.1999. Kode Etik Dagang Menurut Islam. Cv Diponegoro. Cet. III. Bandung. Hlm. 290.Dalam bukunya Gibtiah. 2016. Fikih Kontemporer. Jakarta: Prenada Media Group (Kencana). Hlm. 87.