Sastra dan Kedangkalan Praktik Pembelajaran di Sekolah


Sastra dan Kedangkalan Praktik Pembelajaran di Sekolah

Oleh Liansyah
Sumber Gambar : BatamPos.co.id
 
 

Selama ini upaya pengembangan kepekaan rasa, estetika dan budaya telah dilakukan sekolah dan masuk dalam desai kurikulum resmi pemerintah, yaitu, melalui beberapa mata pelajaran dalam rumpun Seni Budaya dan keterampilan, antara lain seni rupa, musik, dan teater mulai dari jenjang Sekolah Dasar, sampai Sekolah Menengah Atas. Jika arahnya di fokuskan pada upaya mengasah kepekaan rasa, estetika, etika, nilai budaya dan bahkan ideologi maka materi yang tepat adalah sastra dengan berbagai variannya (prosa, puisi, teater dan drama).

            Mengapa, karena dalam sastra pasti terdapat makn tersurat dan tersirat mengenai nilai-nilai, budaya, ideologi, dan lainya secara tidak langsung menjadi media dalam mengasah dimensi rasa, estetika, etika juga membangun pijakan ideologis, sikap politik, etos kerja dan lainya. Melalui sastra, belajar tidak membosankan karena ia tidak bersifat ceramah dan menggurui. Alur jalinan cerita yang tersaji membuat nyaman di nikmati, melalui syair dan bait-bait puisi, kita dapat tenggelam dalam makna-makna yang dikandungnya.

            Tentu selain sastra terdapat beberapa bidang yang juga kuat potensinya untuk mengasah rasa,estetika, etika dan budaya antara lain seni musik,lukis,gambar, tari dan lain-lain. Hanya saja kondisi nyata di Indonesia dalam cangkupan luas porsi sastra sangat sedikit dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, selain itu pelajaran kesenia juga relatif di tunjukan sekadar agar anak dapat menguasia teknik nya saja, misalnya dapat bermain musik, dan tidak di arahkan untuk memahami nilai budaya yang terdapat dalam seni tersebut secara subtansional.

            Lebih lanjut adalah pengetahun atau materi sastra pada jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, hanya menjadi bagian kecil dari pelajaran Bahasa Indonesia, pada kurikulum Bahasa Indonesia hanya di ajarakn kemampuan berabahas Indoensia secart teknis dan teoritis. Misalnya ditekankan pada kemampuan mendengar, membacam dan menulis. Ini semua di sebabkan karena kurikulum pendidikan Indonesia hanya menekankan pada sebuah prinsip Knowing (mengetahui) kurang dalam action sehingga pembelajaran di kelas hanya untuk mencapai tujuan angka bukan subtansional di balik sastra dan bahasa Indonesia.

            Kedua, metode pembelajar program sastra Indonesia di SMA jarang sekali mendalami makna sebuah karya sampai pada refleksi dan kontekstualisasi nilai-nilai yang ada dalam karya tersebut dengan realitas sosial pada saat ini. Dari jenjang Sekolah Dasar sampai menengah bisa jadi banyak anak tidak pernah menulis cerpen,puisi yang baik dan berkualitas. Apalgi misalnya ikut pementasan seni. Peserta didik juga tidak banyak di ajak untuk membaca banyak sastra dan kemudia mencari subtansional dan konteksual dalam kehidupan.

            Ketiga tidak semua sekolah memiliki perpustakaan dengan koleksi buku sastra yang berkualitas dan memadai secara kuantitas. Dalam menyikapi hal ini seroang pendidik harus bisa menciptakan terobosan agar peserta didik mau dan minat pada literasi agar memahami sastra secara baik, oleh karena itu dperlukan upaya nyata di antranya adalah dengan cara Merekayasa Budaya Literasi .


Keberadaan budaya di dunia adalah hal yang mutlak, kebudayaan adalah sesuatu yang sangat melekat dan mendarah dalam jiwa manusia, keberadaan nya ibarat tali yang mengingat setiap jiwa manusia, yang tercipta karena ada segelintir orang yang merekaysa nya. Hal ini di nuklilan pada sebuah manukrif bahwa budaya adalah sebuah kebiasaan di lakukan secara berulang sehingga menjadi karakter dan membudaya dan tidak heran selalu menyesuaikan dengan alam budaya tersebut dibawa.

Literasi adalah suatu bentuk kemampuan mengeidentifikasi, memahami, menafsirkan, menetapkan, dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai perseoalan materi-materi tertulis dan membaca, sedangkan kebudayaan literasi adalah melakukan kebiasaan-kebiasaan berpikir yang disertai dengan proses membaca dan menulis. Menurut National Literacy Forum (NLF), ada empat cara yang harus dilakukan dalam mengembangkan literasi: 1, meningkatkan kemampuan bahasa sejak dini di rumah & dalan pendidikan formal maupun non-formal. 2, mengeefektifkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan keterampilan membaca dan menulis. 3,adanya akses buku bacaan. 4, mendukung budaya literasi.

Sebenarnya perjuaangan merekayasa sebuah budaya sudah dilakukan sejak dahulu kala sebagai contoh, ketika perintah solat diluncurkan kepada nabi Muhammad Saw, maka secara tidak langsung budaya sedang di rekayasa dan sampai sekarang budaya solat terus terjalan hingga saat ini. Lantas bagaimana jika merekayasa budaya literasi di antarnya adalah membaca.

Membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa. Merupakan kegiatan memahami teks bacaan dengan tujuan untuk memperoleh informasi dari teks yang kita baca. Menurut Artano 2009, membaca merupakan aktivitas perencanaan informasi melalui lambang-lambang tertulis kemudian menalarkannya.


Sebuah ironi terjadi berakaitan dengan minat baca, di lansir dalam riset yang di lakukan oleh Taufik Ismail (Sastrawan senior) mengenai kewajiban anak SMA atau sederajat membaca buku sastra,dalam hal ini tidak ada kewajiban membaca yang di lakukan pemerintah atau pemegang kebijakan pendidikan mulai dari kepala Dinas mengabaikan pentingnya membaca buku didukung oleh sebuah fakta atau temuan dari berbagai lembaga yang melakukan studi tentang hal tersebut. Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009 melakukan studi tentang minat baca terhadap 65 negara. Dari studi PISA tersebut, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negera yang di survey tentang minat baca. Indonesia masih kalah dengan Thailand, yang menempti posisi ke-50. Bila dibandingkan dengan Jepang, jarak Indonesia semakin lebih jauh. Jepang menempati posisi ke-8 dalam hasil survei tersebut. Studi yang sama juga dilakukan oleh The United Nations Development Programme (UNDP) terhadap minat baca beberapa negara di dunia. Tidak jauh berbeda dengan temuan PISA sebelumnya, dari temuan UNDP tersebut, Indonesia menempati posisi ke-96. Urutan tersebut memaksa dahi kita berkerut. Memaksa kita mengelus dada, minat baca kita berada pada posisi titik nadir.


Pendidikan di Indonesia hanya mementingkan memakai alas kaki apa dari pada berapa buku yang di bacanya lebih peduli terhadap pakaian, Negara tetangga kita thailand mewajibkan untuk anak SMA membaca minimal 5 judul buku dalam masa pendidikan, Malaisya dengan 6 judul buku, Jepang dengan 15 judul buku sedangkan kita dengan bangganya “0”judul buku. Tragedi nol buku ini sama dahsyatnya dengan bencana tsunami yang terjadi beberapa waktu yang lalu di Aceh Darussalam bila bencana tsunami korban fisik lebih besar, maka tragedi nol buku ini menghancurkan dari dimensi karakter dan mentalitas. Sama dengan kekhawatiran kita bersama tentang perluasan dan penyebaran penggunan narkoba yang kian membesar. Buku, demikian besar pengaruhnya dalam menentukan arah dan kebesaran sebuah peradaban. Tidak heran bila banyak negara begitu peduli terhadap minat baca bangsanya. Berbagai langkah dan upaya dilakukan agar minat baca warganya meningkat. Berbagai stimulus diberikan untuk mendorong agar warganya memiliki kebiasaan atau budaya membaca. Kita bisa mencontoh Jepang dalam membangun budaya baca warganya. Di Jepang ada program atau gerakan yang bernama 20 minutes reading of mother and child. Gerakan atau program ini mengharuskan seorang ibu utuk mengajak anaknya membaca buku 20 menit sebelum tidur. Ini merupakan salah satu contoh dari dalam meningkatkan budaya bacawarganya.


Implikasi kewajiaban membaca buku dalam upaya mencegah tregedi 0 buku “Seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan Bila tidak dikelilingi buku-bukunya [Francois Mitterand, Presiden Perancis, ]” Asupan pengetahuan pada anak pun kurang secara jumlah dan kualitasnya. Semakin sedikit bacaan, semakin sempit wawasannya, semakin dangkal pengambilan keputusannya. Dampak kedua, tanpa kegemaran membaca maka tak ada pembelajaran berkelanjutan. Iya, membaca buku hanya ketika ada kewajiban di sekolah-kampus. Setelah itu membaca jadi aktivitas yang dijauhi dan dilupakan. Bahkan bisa jadi, membaca buku jadi aktivitas yang dibenci. Dampak ketiga, anak tidak merasakan manfaat dari gemar membaca buku sastra ada memperkaya kosa kata anak, membuat anak belajar tentang keragaman, problem solving, dan wawasan berbagai tempat, memahami pola prilaku orang dan cara berinteraksi, terakhir, melatih imajinasi dan kreativitas anak, langkah yang paling dasar untuk keluar dari tragedi ini adalah dengan menjadikan ini sebagai tragedi nasional. Menjadikan ini sebagai kesadaran kolektif bangsa, bahwa kita sedang dihantui sebuah tragedi Nasional.


            Kondisi dan Fakta tersebut jelas menunjukan kedangkalan praktik pembelajaran sastra dan budaya literasi yang luntur, baik dilihat dari segi komposisi kurikulumnya, desain dan metode pembelajaran serta ketersediaan bahan bacaan untuk menamba cinta sastra dan budaya literasi. Padahal untuk membentuk dan mengasah rasa, etika, estetika, nilai-nilai dan budaya literasi. Oleh karena ayo sebagai seorang insan membenahi dan memperbaiki sistem dan mendalami ilmu secara konspetual dan memahami subtansial di balinya.