Gotong Royong Memaknai Persatuan














Image result for gotong royong menurut ahli
sumber www.kompasnia.com
Gotong Royong Memaknai Persatuan
Oleh Liansyah
Image result for gotong royong menurut ahli
sumber www.kompasnia.com
Soekarno menggunakanan Istilah gotong Royong untuk meneggakan etos persatuan pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Pada sebuah sebuah pidato pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menegaskan bahwa gotong royong merupakan intipati pancasila setelah diperas sedemikian rupa, mengutip pada pidato yang beliau katakan “Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah gotong royong, gotong royong merupakan paham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan dalam buku Zamrud Toleransi (2017:26).
Gotong royong sendiri adalah pembantingan tulang bersama-sama, pemerasan keringat bersama-sama, perjuangan bantu-membantu, semua untuk kepentingan bersama. Dan merupakan refleksi dari Pancasila, sosial budaya dan nilai luhur yang telah dijunjung rakyat Nusantara berabad-abad yang lalu, namun budaya gotong royong seakan sudah luntur, munculah masyarakat yang beragaya hedonisme, kemandirian dan sikap acuh tak acuh mulai teratanam seiring dengan majunya peradaban digital, masyrakat seakan lekat dengan dan dekat dengan dunia digital sehingga muncul istilah pribumi digital. Menurut  Koentjaraningrat budaya gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Jadi, gotong royong bukan sepenuhnya tentang bekerja bakti, namun dalam bentuk saling tolong menolong juga merupakan salah satu contoh dari budaya gotong royong. Budaya gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta rakyat , kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan budaya gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum,  yang terjadi atas inisiatif warga atau gotong royong yang dipaksakan.
Pada tahun 1930-an, Muhammad Hatta sebagaimana tertuang dalam harian Daulat Rakjat No.75, tanggal 10 Oktober 1993- menggunakan istilah kolektivisme untuk merujuk pada konsep gotong royong yang menurutnya mengandung arti serupa. Tanda-tanda koletivisme kata Hatta tampak pertama kali pada sifat tolong menolong yang menjiwai setiap individu dalam masyarakat Nusantara, Kata Hatta “Sifat tolong menolong itu menjadi satu tiang  daripada pergaulan hidup Indonesia. Kolektivisme sendiri dalam arti luas adalah nilai di mana masyarakat tergabung dalam sebuah ikatan kohesif. Di dalam ikatan tersebut setiap individu harus menjaga loyalitas terhadap kekompakkanya. Koletivitisme berarti perhatian terhadap masyarakat dimana ia berada (Latif:2011).
            Sekarang sudah tampak jelas hilangnya budaya gotong royong di Indonesia, sebuah pernyataan dengan  bukti yang jelas. Banyak permasalahan yang terjadi di Indonesia, mulai rakusnya pejabat masyarakat, seperti tidak mau antri dan kurang peduli terhadap hak orang lain. Itu semua ialah buktinya.yang memperkaya diri sendiri, pelanggaran HAM, hingga perilaku sehari-hari yang kurang mencerminkan nilai luhur budaya Indonesia. Sudah sejatinay kita harus memperjuangkan budaya gotong royong yang di mulai dari diri sendiri untuk menuju perubahan besar.
Sedikit mengulas tentang bukti kearifan dari sebuah budaya gotong royong, di daerah penulis wilayah utara Kalbar tepatnya di Desa Sejangkung Kabupaten Sambas terdapat sebuah bukti dari kearifan budaya, disaat acara kenduri (pesta rakyat), masyarakat ramai-ramai membantu dalam bahasa sambas pakatan (bersama-sama mengumpulkan beras,ayam kampung dan lain sebagainya) diberikan kepada pelaksana acara untuk kelancaran  kenduri, untuk yang ibu-ibu membantu dalam hal masak-memasak dilakukan secara beramai-ramai, dan bapak serta para pemuda bergotong royong membangun tarup (tempat untuk para tamu makan dalam bahasa melayu Sambas), dan akhirnya acara kenduri dapat terlaksana akibat dari rekontruksi bahu-membahu sehingga keharmonisan,nilai toleransi dapat terbentuk dimasyarakat, semoga budaya ini selalu terukir selamanya.
Setelah memahami  gotong royong, berikut ini adalah manfaat dari gotong royong dalam kehidupan sosial. Salah satu sifat bangsa indonesia yang sangat menunjang kehidupan sosial adalah kekeluargaan dari gotong royong yang tumbuh bersama karena banyak mengandung nilai luhur. Maka dari itu perlu ditumbuh kembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing dan yang paling penting dalam melakukan gotong royong adalah sikap rela berkorban tanpa pamrih, rasa saling membantu, mengutamakan kepentingan bersama atau  kepentingan umum dan rasa senasib. Dengan demikian manfaat gotong royong itu antara lain :Mempererat tali persaudaraan,Memperkukuh persatuan dan kesatuan,Membantu umat manusia yang membutuhkan bantuan atau pertolongan, Mendorong timbulnya semangat kekeluargaan ,Dapat meringankan pekerjaan yang berat menjadi ringan dan cepat terselesaikan  ,Dapat memupuk kehidupan bermasyarakat, berbagsa dan bernegara ,Menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan dengan sesama ,Menghemat waktu dan tenaga produktivitas kerja ,Meningkatkan produktifitas kerja ,Dan mendpatkan pahala dari Tuhan.
Dalam hal ini gotong royong adalah bukti bahwa kita adalah Indonesia, sudah seharusnya budaya ini dipertahankan dalam berbagai prespektif ini adalah bukti kearifan kita bersama yang harus selalu dijunjung, ayo jaga lestarikan budaya gotong royong agar tidak hilang ditelan zaman.