Peran Strategis Santri

Peran Strategis Santri
s
Image result for santri
sumber santrinews.com



Lebih dari 10.350.000 orang di Penjara di seluruh Dunia di terbitkan oleh Criminal Policy Research, Penjara merupakan tempat penghukuman bagi nara Pidana karena melakukan kejahatan dan di jatuhkan pidana oleh Pengadilan, Penjara diciptakan oleh Negara sebagai tempat untuk mengisolasi agar menjadi lebih baik dan memberikan efek jera, dan terkadang perlakuan brutal,  ruang sempit ,sesak dan mengerikan dapat di rasakan nar pidana, namun yang kita bahas kali ini bukan lah penjara yang seperti ini, kita akan membahas tentang Penjara suci

.
Penjara suci, bukanlah tempat para Nara Pidana. Itu hanyalah  sebutan lain dari Pondok Pesantren mengapa di sebut penjara suci  karena hampir tidak ada kegiatan di luar lingkungan Pondok Pesantren dan suci  karena merupakan  tempat untuk mendalami ilmu agama, tentu setiap penjara pasti memilki berbagi aturan yang akan di gunakan untuk membina sehingga menjadi lebih baik ,orang yang mendapat binaan tersebut adalah santri sehingga santri lah yang mendapat binaan agar menjadi lebih baik sama hal nya dengan nara Pidana, namun nara Pidana  adalah orang yang melakukuan kejahatan dan di hukum secara mutlak.
Menurut Al-Mujadalah (11) : Allah akan meninggikan orang orang yang beriman di- antaramu dan orang-orang  yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Di dalam quran Al imran ayat 18 Allah menyatkan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah ) melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu  (juga menyatakan yang demikian itu ). Tak ada Tuhan ( yang berhak di sembah ) melainkan dia ,Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.                                                                      Allah akan  meninggikan derajat orang yang  berilmu tentu akan banyak sekali tantangan, dan berbagai rintangan , untuk mari kita simak terlebih dahulu cerita perjuangan santri dalam menuntul ilmu.
Fajar tiba santri segera terbangun berebut dalam mengambil wudhu supaya tidak tertinggal (masbuq), karena jika sampai tertinggal dan tidak berjamaah pasti akan mendapat hukuman dan di anggap tidak disipili, bahkan terkadang jadwal tidur  santri lebih sedikit di bandingan dengan  remaja pada umumnya. Di dalam Pondok Pesantren tidak ada namanya gadget bahkan membawa handphone yang tidak memiliki akses untuk internet pun dilarang, mungkin terlihat kejam tetapi di situlah  manfaatnya bahwa dilarang membawa gadget supaya tidak terpengaruh oleh arus luar yang kadang berdampak negatif  namun tidak dapat di pungkiri bahwa dampak positif nya juga banyak, dalam kehidupan Pesantren santri akan terbiasa hidup lebih hemat dan mandiri karena hampir semua kegiatan seperti mencuci pakaian, makan,dan pengelolaan keuangan itu dilakukan oleh santri. Pada saat sebelum magrib akan ada acara rutin atau yang sering di kenal dengan majelis ilmu hingga kemudian di lanjutkan dengan solat isya dan  kegitan mengkaji kitab baik itu kitab kuning ,al quran dan kitab lainya, namun  sistem ini tidak  mutlak yang di berlakukan terhadap semua Pondok Pesantren. Beribadah, berpuasa, kerja fisik belajar adalah hal yang selalu di hadapi oleh santri konsistensi menghadapi aktivitas tersebut di lakukan selam bertahun- tahun sehingga akan menempa mental baja yang kuat. Salah satu sebab  yang membantu kita dalam menuntut ilmu adalah tidak mengenal lelah dan bersungguh- sungguh. Syaikh Muhammad Bin shalih Al – Utsmani Rahimullah berkata . “Seorang penuntut ilmu seharusnya mengerahkan kesungguhan demi meraih ilmu itu setelah mendapatkannya. Karena ilmu itu tidaklah di dapat dengan badan yang bersantai saja. Seorang penuntut ilmu haruslah menempuh  seluruh jalan menuju ilmu. Dan dia akan di beri pahala atas hal itu. Sesuai dengan hadis sahih muslim nabi Muhammad shllallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda “ Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”.          



Tradisi santri yang sangat menonjol adalah semangat berkorban, mandiri, bersahaja, egaliter, tawaduk, dan moderat. Sifat-sifat ini merupakan karakter kebangsaan yang penting. Semuanya telah dicontohkan dengan baik oleh tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang berlatar belakang santri dari masa ke masa. Pada masa kolonialisme, santri telah membuktikan dirinya sebagai kekuatan utama dalam mengusir penjajah. Mereka tidak segan-segan mengorbankan jiwanya guna memperjuangkan Indonesia yang merdeka. Sikap mandiri yang dimiliki santri menjadikannya tumbuh sebagai generasi yang independen, anti terhadap segala bentuk penjajahan. Setelah kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, para santri pun terpanggil untuk mempertahankannya. 
Soekarno adalah murid Cokroaminoto, pendiri Sarekat Islam (SI), sementara Hatta merupakan anak Muhammad Djamil, tokoh agama terkemuka di Bukittinggi. Masa remaja kedua tokoh ini dihabiskan dalam lingkungan habitus sangat agamis. Jiwa santri melekat dalam diri mereka. Kiai Haji Hasyim Asyari mengeluarkan Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945, yang dapat menggerakkan semangat jihad para santri di seluruh penjuru Indonesia. Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman sebagai santri dan kader Muhammadiyah juga merupakan contoh sempurna bagaimana kaum santri berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.Tidak hanya sampai di situ, karakter santri yang moderat dan inklusif termanifestasi dalam sikap kenegarawan para tokoh Islam pendiri bangsa, terutama ketika mereka secara ikhlas mau menghapuskan tujuh kata--"dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya"--dalam Piagam Jakarta. Pengorbanan besar dalam mengukuhkan semangat kebinekaan guna mendukung terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada era kemerdekaan pun banyak lahir tokoh-tokoh santri yang bersahaja dan egaliter. Perjuangan politik mereka jalankan dengan penuh amanah demi menciptakan negara yang adil dan sejahtera                                                                                                      
Di dalam “Undang  - undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3,  Tujuan dari pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi,peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. 
  Untuk mencapai tujuan itu  Pesantren adalah lembaga yang tepat ada beberapa manfaat Pesantren yang dapat  diuraikan di Pesantren santri akan terjaga dari pengaruh buruk lingkungan bebas, hal ini sudah pasti anak yang tinggal di Pondok akan memiliki batasan misal adanya zona terlarang antara santri Putra dan Putri, yang kedua adalah pembangunan karakter tentu karena di dengan hidup lebih mandiri seperti di tuntut untuk lebih disiplin dan lebih telaten serta dibina untuk lebih sederhana, kemudian ibadah akan lebih terjaga dalam lingkungan Pondok  salat lima waktu dan ibadah sunah lainya terprogram secara detail sehingga melatih santri agar lebih disiplin dan tentu saja jika meninggalkan nya akan mendapat sanksi yang telah di tetapkan, walaupun di hukum tentu secara  langsung akan membuat santri mengerti  akan pentingnya menjalankan kewajiban kepada Allah S.W.T. Cerdas dan jenius ini merupakan cetusan bagi pesantren kenapa tak heran jika kita melihat anak Pesantren pandai berbahasa Inggris dan bahasa lainya, mereka juga mampu memenangkan olimpiade tingkat Nasional maupun Internasional. Beberapa poin di atas adalah manfaat belajar di pondok pesantren dan masih banyak lagi manfaat yang lain, namun terkadang ada kontra dari pandangan Masyarakt tentang anak nakal diserahkan ke Pesantren dengan harapan dapat di bina, pada hakikatnya tidak semua berhasil jika tidak sampai menyelasaikan pendidikan di Pesantren dan anak di tekan untuk masuk ke Pesantren sehingga akan tercipta kontra di dalam hati anak. 
Pada zaman modern ini kita dapat melihat bagaimana seorang santri sudah menjadi bagian yang sangat berpengaruh ibarat Emas diletakan di mana pun  ia akan tetap menjadi Emas, sekalipun emas di letakan di dalam lumpur jika memang Emas, ia akan tetap bersinar.

Alumni Pondok Pesantren Ushuluddin Singkawang

0 komentar:

Post a Comment

Kami mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog ini, silahkan berkomentar dengan bijak dan membangun keilmuan kita bersama, terimakasih.