Sebuah Hakikat Kembali







“Hakikat Kembali”
Oleh Liansyah
Takdir telah terukir bahkan setelah pertama kali menghirup napas di Bumi yang renta ini. Takdir untuk kembali ke perjalanan panjang menuju alam berikutnya, kepada siapakah kita kembali? Kehidupan yang selama ini tertata seperti ekosistem, keagungan yang dipuja, mahkota yang diperebutkan sirna ketika  sang pencipta memanggilmu, apa yang akan kita bawa wahai jiwa yang renta akan kesombongan.
Image result for hakikat kembali
Dalam menapaki kehidupan yang fana ini bagaiamana kita akan mencapkan cakar dan  berjalan di atas bumi dengan penuh rahmat serta amal kebajikan sungguh tiada hal yang akan kita bawa selain amal dan dosa yang kita perbuat, inginkah kita mati dalam keadaan bermakisat kepada Allah, inginkah kita mati dalam keadaan berlumur dosa bagai bangkai yang bernyawa atau mati dalam keadaan khusnul khatimah.
Namun yang terpenting adalah bagaimana wujud pengabdian kita kepadaNya sesuai dengan perintah Allah dalam Alquran tentang hakikat penciptaan manusia “ Sungguh tidak kuciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKu”  Q.S Aldzariyat, inilah dia yang harus kita lakukan dan apa yang harus diupayakan untuk perbekalan yang sempurna kepada Sang Pencipta.
Allah telah melihatkan keagunganNya Rahman dan Rahim kepada alam semesta serta ciptaaNya. Masih ingatkah  “sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepadanya kita kembali” yang namanya kematian tentu tidak tau kapan akan datang, kehidupan yang semula pasti hancur tak bersisa, namun kita haruslah beriman kepada Allah dan senatiasa bermunajat kepadaNya, bersahalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW berharap mendapat syafaat di hari kiamat kelak.
            Tidak sedikit dari kita sering melupakan atau mengabaikan beban kewajiban masih mampukah bendungan yang selama ini menampung dosa menahannya atau setiap hari harus kita tambah agar membajiri kota kebaikan, dan kebaikan akan tenggelam oleh bendungan yang kita ciptakan sendiri, pantaskah kita merebut jubbah kesombongan yang seharusnya hanya Allah yang memilikinya.
            Teringat aku dengan kisah Firaun yang dengan kesombongan dan keangukahanya menanggap dialah yang berhak disembah sampai mengakui bahwa dia adalah Tuhan, banyak budak yang mengabdi kepadanya jika tidak maka tak segan tangan untuk merenggut urat lehernya. Diakhir hayatnya barulah ia teringat akan dosa dan kesalahan fatal yang ia perbuat, akankah Allah menerima taubatnya, tentu tidak bukankah sudah jelas Allah melihatkan peringatan dan keagungan kepadanya.
            Maukah kita mati dalam keadaan seperti Firaun dan sudah dicap akan berada di neraka, sudah jelas bahwa sejarah dimasa lalu tidak seharusnya terulang dimasa kini kita harus memetik hikmah disetiap sejarah,pengalaman atau pun setiap perjalanan yang kita lalui untuk membantu dalam mengekapkan layar menjelajahi belantara ketidaktahuan.
            Tulang kita mungkin akan hancur, wajah akan dipenuhi belantung, raga mungkin tak berupa namun ruh yang kita bawa untuk kembali kepadamu pasti menjajaki dialam berikutnya. Tak peduli kau atau aku mati dalam keadaan tertembak,tenggelam, terbakar, atau termakan binatang buas pada akhirnya hanya amal dan dosa yang akan kita bawa. Cinta kepada Allah lah yang menerangi  cakrawala kehidupan, memainkan peran yang mendalam pada jiwa dan jasmani manusia.


           
           
           



0 komentar:

Post a Comment

Kami mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog ini, silahkan berkomentar dengan bijak dan membangun keilmuan kita bersama, terimakasih.