“Kampanye Media Online dalam Merespon Intoleransi dan Kekerasan Atas Nama Agama”

“Kampanye Media Online dalam Merespon Intoleransi dan Kekerasan Atas Nama Agama”

Image result for gambar medsos
sumber gambar nasioanl.sindonews.com

Sudah tidak dapat dipungkiri bahwa arus percepatan informasi tidak dapat terbendung lagi oleh batas teritorial suatu negara. Globalisasi dan perkembangan teknologi Media Online di Dunia semakin berkembang mulai dari Faceboook, Twiter, WhatsApp, Instagram , Path, Gmail dll atau dalam istilahnya adalah Pribumi Digital. Sejatinya media online ini memiliki peran penting sebagai sarana untuk memicu perdamaian dan mengaklarifikasi cerita yang lebih autentik, namun beberapa pemberitaan  menampilkan informasi yang kurang sedap untuk dikonsumsi sebagai sebuah berita apalagi dalam merespon perbuatan intoleransi

  Merespon sikap intoleransi yang tidak benar merupakan cikal bakal terjadinya kekerasan dan radikalisme, intoleransi sendiri merupakan praktik keberagaman yang terjadi atau sebuah perselisihan tidak menghargai agama lain. Berbagai keajadian berabau SARA bagi sebagian orang seolah masih sulit menyikapi berbagai masalah atau informasi dengan  baik dan bijak. Ada beberapa kasus intoleran contohnya pembakaran Vihara di Tanjung Balai atau konflik Sunni dan Syiah di Madura ini adalah akibat dari kurang memahami sikap toleransi. Sikap intoleransi dapat diibarakan seperti api yang dibalas api, atau dalam istilah sosial budaya  disebut etnosentrisme yaitu anggapan bahwa dia mencintai kelompoknya yang paling hebat dan paling dicintainya dan menganggap yang lain lemah, ketika negara mencoba membangun mulikultularisme yang diharmonikan dengan bunga toleransi ada kelompok tertentu yang justru merusaknya dengan kasus intolerasi.

Hal yang tidak terlupakan bahwa kasus yang mengatas namakan agama menurut data wahid institute tahun 2012 telah terjadi 274 kasus kekerasan atas nama agama ,apalagi pada tahun 2018 sekarang peningkatan terus terjadi, ada beberapa faktor yang dapat membuat hal ini terjadi faktor internal adalah karena adanya keterbatasan pengetahuan oleh pemeluk agamanya, sehingga memunculkan pemahaman yang bersifat tekstual  tanpa memahami lebih dalam dengan kajian yang berbeda. Dampaknya mereka menjadi lebih fanatik dan mengenaympingkan pandangan lebih mendalam terhadap teks, dogma dan symbol ini merupakan sikap berbahaya dan berpotensi besar untuk melahirkan kekerasan dan anarkisme.

Tersebab hal tersebut diperlukan upaya nyata dengan menanamkan sikap terbuka terhadap agama lain, inklusif, toleran dan pluralis, pandangan seperti ini akan membawa kita kepada sebuah kesadaran akan relavitas agama-agama, dimana kita dapat membawa perdamaian, berangakat dari perbedaan yang ada di Indonesia kita harus menanamkan sikap toleransi yang lebih tinggi dengan mengamalkan landasan konstitusional dan Dasar negara Republik Indonesia atau Pancasila jikalah terjadi kekerarsan atas nama agama sebagai warga negara yang baik kita harus  lebih bijak bagaimana kita melihat jangan disalahkan agama yang dianut oleh orang tersebut namun lihat lah dari prepektif yang berbeda karena sejatinya semua agama mengajak dan menyeru kejalan perdamaian.
Image result for gambar medsos
sumber gambar  : ahlulbaitindonesia.or.id
Pendorong hal tersebut adalah media online sebagai hasil dari perkembangan teknologi komunikasi yang tentunya berpengaruh terhadap kehidupan manusia baik dalam hal ekonomi, social, budaya dan juga politik, terlebih khusus media online dapat digunakan sebagai sarana kampanye karena lebih bersifat global artinya bukan hanya satu orang yang dapat membaca melainkan berjuta-juta pengguna Medsos dapat membacanya, ini dapat membangun kemampuan untuk memberikan informasi seputar penanaman sikap toleransi beragama, agar dapat terecegahnya sikap kekerasan yang dapat menanmkan paham radikalisme. Sebagi insan yang selalu ingin berguna untuk orang lain sebaiknnya kita menggunakan media online dengan bijak jadikan kanlah Sosial Media menjadi sarana untuk berbagi hal positif untuk Indonesia Maju.