Bumi dan Manusia





Oleh: Liansyah
BUMI secara simbolik digambarkan seperti wanita lanjut usia (lansia), meski sudah tua, tetapi ingin tampil cantik lebih menarik, dan aksesoris beraneka ragam, namun dibalik usia senja ada pemerkosaan terhadap bumi yang dilakukan oleh manusia, dilansir di dalam majalah National Geogrphic, dikabarkan bahwa para peneliti di International Soil Refrence and Information Center (ISRIC) menyatakan pada kahir abad ke-20 umat manusia telah merusak 7,5 juta mil persegi dari tanah yang tadinya merupakan lahan yang sangat potensial. Berapa luaskah 7,5 mil ini setara dengan luas Benua Amerika.
Usia bumi sekarang sekitar 4,54 miliar tahun diukur berdasarkan penanggalan radiometik meteorit dan sesuai bebatuan tertua yang pernah ditemukan, dalam keadaan bumi yang semakin tua tentu banyak penyakit yang dirasakan dari mulai banjir, tanah longsor, gunung meletus, pemanasan global, gempa bumi, tsunami dll.
Menjadikan bumi semakin cantik dengan berbagai aksesoris seperti gedung pencakar langit, pusat berbelanja yang cantik dipandang mata, tetapi memiliki arti bumi yang semakin keropos dan gersang disebabkan banyaknya pohon yang ditebang untuk keperluan pembangunan, pohon sebagai paru-paru dunia mulai berkurang, jikalah pohon berkurang akibatnya terjadilah sebuah fenomena yang kita kenal dengan global waming dan efek rumah kaca.
Global warming atau dikenal juga dengan pemanasan globl, adalah suatu peristiwa dimana terjadi peningkatan suhu di atmospher dan di permukaaan bumi, peingkatan suhu di bumi tentu akan membawa dampak yang besar terhadap sistem ekologi. Menurut penelitian pengamat ekologi pada abad ke-21 suhu bumi mengalami peningkatan sebesar 4 derajat celcius kenaikan suhu ini mengakibatkan gletser di kutub mencair dan mengancam tatanan kehidupan di kutub tentu permukaan air laut akan meningkat dan menimbulkan potensi pulau- pulau akan tenggelam.
Efek rumah kaca adalah peristiwa meningkatnya suhu permukaan bumi  yang disebabkan oleh perubahan pada kondisi dan komposisi atmospher sehingga panas dari matahari tetap berada di Bumi dan tidak bisa dipantulkan secara sempurna keluar atmospher, peristiwa ini terjadi karena jumlah populasi manusia semakin meningkat sehingga jumlah karbondioksida semakin banyak ditambah ekploitasi terhadap kayu, pembuangan limbah padat, populasi kendaraaan yang meningkat  dan aktivitas manusia lainya, disaat bersamaan jumlah pohon dimuka bumi  semakin berkurang lantaran penjajahan terhadap hutan semakin marak terjadi.
Planet bumi yang semakin tua dan mulai menggkhawatirkan serta  kondisi bumi yang rapuh dan tidak mampu lagi mendukung kehidupan umat manusia para ilmuwan menyatakan bentuk nyata dari bencana bumi bisa dilihat dari  perubahan iklim, serangan aestroid dari ruang angkasa, sampai berbagai macam penyakit melalui populasi manusia di belahan dunia
Memang tragis jika kita melihat kondisi bumi seperti ini kerusakan tatanan dan ekologi terjadi dimana-mana, kerusakan tatanan ini tentu akan membawa dampak negatif terhadap kehidupan manusia karena itu diperlukan upaya pemulihan kondisi bumi yang pertama adalah reboisasi/reforestaion merupakan kegiatan penanaman kembali pada lahan yang tandus dan gundul biasanya disebakan oleh tangan jahil manusia, reboisasi sangat penting dilakukakan karena pohon bisa menyediakan suplay oksigen dengan melimpah dan mampu menyerap polusi serta karbondioksida yang dikeluarkan manusia
Kedua adalah hentikan penebangan liar dan terapkan sistem tabang pilih,
 Berbagai ekosistem pohon di Indonesia yang tersebar merata, teknik tebang pilih haruslah ditanamkan karena dengan menebang atau memilih pohon yang tua dan tidak menebang pohon yang masih muda, bertujuan untuk menjaga keselamatan baik manusia dengan menebang pohon yang tua maka pohon tidak akan mengering dan menjadi sarang hama pohon juga tidak akan roboh dengan sendirinya dan mati dengan sia-sia serta menimbulkan potensi kebakaran hutan karena kandungan air di pohon tua cukup sedikit, sistem ini sangat diperlukan oleh masyarakat alangkah baiknya jika setelah melakukan penebangan juga diganti dengan tanaman baru agar tetap menjaga kesetabilan ekosistem.
Ketiga adalah mengurangi penggunaan energi listrik di rumah tahukah kita? Indonesia adalah negara terboros di ASEAN dalam hal pemakaian listrik, tetepi ada juga masih ada 29 % dari keseluruhan rakyat Indonesia yang belum memiliki akses terhadap listrik (www.esdm.go.id), hal ini berarti terdapat 71% yang merasakan aliran listrik namun menikmatinya secara berlebihan, beberapa tips yang dapat digunakan untuk mengehemat suplay listrik di rumah penghuni rumah harus mengetahui jenis peralatan yang sering digunakan dan meminimalisir penggunaannya misalnnya AC, kulkas, mesin cuci dll. Pada pemilihan bola lampu disarankan menggunakan lampu neon karena lampu neon lebih hemat, kemudian lebih baik menggunakan pengering pakaian alami (Matahari) dari pada mesin cuci,  dan selalu memperhatikan hal kecil di sekitar yang dapat membawa perubahan besar untuk negara kita.
Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus bangsa dapat menjaga dan merawat bumi yang kita cintai untuk generasi setelah kita, selalu menjaga alam lihatlah bagaimana kita memandang hamparan sawah, lahan hijau hutan sudah dapat membuat bahagia dan menikmati sejuk dan indahnya bumi ini. Jangan sampai bumi kita yang sudah tua renta ini semakin tersiksa karena ulah manusia, seharusnya kita berterimakasih kepada bumi yang tercinta karan telah diizinkan menempatinya dengan merawatnyalah bukti terimkasih kita kepad bumi. **

www.merekamgagas.web.id